Showing posts with label Bencana. Show all posts
Showing posts with label Bencana. Show all posts

Thursday, April 7, 2011

Monday, March 21, 2011

Pemerintah Kota Yogyakarta Kesulitan Atasi Banjir Sungai Code



Malam merangkak naik. Hujan masih turun meski tidak terlalu deras. Beberapa pengguna jalan yang lewat di Jembatan Sayidan berhenti sejenak. Mereka mengarahkan mata ke Sungai Code yang meluap. Rumah penduduk yang berada di sepanjang sungai yang membelah kota Yogyakarta itu tergenang air berwarna coklat pekat, Sabtu (19/3). Aliran airnya juga begitu deras.

Banjir yang terjadi Sabtu sore itu adalah banjir besar yang untuk kesekian kalinya ‘menghajar’ warga yang tinggal di sepanjang Sungai Code. Menurut Ketua Sekretariat Badan Koordinasi Penanggulangan Bencana Daerah (BKPBD), Soedarsono, banjir ini menggenangi 1191 rumah yang tersebar di delapan kecamatan. Sekira 1412 Kepala Keluarga (KK) yang terdiri 4369 jiwa harus diungsikan.

Pascaerupsi Gunung Merapi, Sungai Code mengalami pendangkalan akibat material letusan yang turun terbawa aliran air hujan dan mengendap di sungai itu. Hulu Sungai Code berada di kaki Gunung Merapi. Akibatnya, saat hujan deras mengguyur wilayah kota atau di Gunung Merapi, banjir terjadi.

Sejak Gunung Merapi mengalami erupsi besar pada 26 Oktober 2010 lalu, Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta mengalami kesulitan dalam mengendalikan banjir lahar yang melintasi wilayah kota Yogyakarta sepanjang tujuh kilometer itu. Setelah banjir besar pada 29 Nopember dan 6 Desember 2010, Pemkot sudah menerjunkan bego untuk mengeruk endapan pasir yang mendangkalkan Sungai Code.

Namun ini tidak cukup. Buktinya, setiap hujan deras, banjir pasti terjadi lagi.

Apakah Pemkot Yogyakarta tidak serius mencegah banjir ini? Sukaryanto, aktivis Forum Pengurangan Resiko Bencana (Forum PRB) Yogyakarta mengatakan Nopember 2010 lalu, Pemkot memang terlihat tidak serius. Sedangkan Danang Samsu Rizal mengatakan dari sisi pencegahan banjir masih perlu banyak upaya. Menurut Danang, kendalanya adalah faktor penduduk di sekitar bantaran Sungai Code yang padat sekali.

Ketika jumpa pers di rumah dinas Walikota Yogyakarta, Minggu (20/3), Kepala Plt Kimpraswil Kota Yogyakarta, Totok Suroto mengelak. “Kami sudah menurunkan tiga bego,” tandasnya. Masing-masing ditempatkan di wilayah Kewek, Bintaran dan Tungkak.

Jika banjir terus terjadi, perlu ada penambahan bego. Namun Totok mengatakan pihaknya sulit menambah jumlah bego karena akses masuk ke Sungi Code sulit. Permukaan Sungai Code tidak seluruhnya datar sehingga menyebabkan bego sulit bergerak. Selain itu masyarakat juga suka mengeruk secara manual karena dapat mendatangkan penghasilan.

Totok juga menjelaskan untuk menanggulangi banjir Sungai Code Pemkot sudah menganggarkan dan sebesar Rp 7,8 milyar, sekitar Rp 2,7 milyar digunakan untuk membiayai pengerukan.

Pengerukan sedimen material Gunung Merapi, jika dilakukan secara masif dengan menggunakan bego dapat mengurangi resiko banjir. “Itu salah satu cara mengurangi intensitas ancaman (banjir),” ujar pakar pengurangan resiko bencana dari Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Yogyakarta, Eko Teguh Paripurno.

Selain itu, Eko juga mengingatkan jika banjir lahar dingin pasti terjadi dan tidak dapat dicegah. “Warga Code harus beradaptasi,” saran peenerima penghargaan Sasakawa itu.

Bagaimana bentuk adaptasi itu? Itulah agenda yang harus dibicarakan bersama antara warga di pinggiran Sungai Code dengan pemerintah. Solusi terbaik harus ditemukan. (foto dan teks: bambang muryanto)

Friday, February 4, 2011

Warga Tiga Desa Tolak Pembangunan Sabo Dam



Sekira 60 warga yang mewakili tiga desa di lereng Gunung Merapi, yaitu Wonokerto, Girikerto (Sleman, Yogyakarta) dan Kaliurang, Srumbung, Magelang mendatangi Kantor Balai Besar Wilayah Sungai Serayu-Opak di Jalan Magelang, Yogyakarta. Mereka menolak rencana pemerintah membangun sabo dam, penahan aliran lahar dingin di sungai-sungai yang melewati desa mereka.

“Kami keberatan dan menolak pembangunan sabo dam,” ujar Suwadji, perwakilan warga yang menjadi juru bicara warga, Jumat (4/2). Pihak Kantor Balai Besar Wilayah Sungai Serayu-Opak yang menerima rombongan warga dari lereng Gunung merapi itu adalah Pejabat Pembuat Komitmen Pengendalian Banjir dan Pantai, Syahril.

Dalam pernyataannya, warga asal Kaliurang itu mengatakan berdasarkan pengalaman sejarah, pembangunan sabo dam membawa dampak negatif, seperti merusak alam, merusak lahan pertanian di sekitar sabo dam, merusak mata air, awan panas dan lahar dingin menjadi mudah menyebar ke pemukiman penduduk yang berada di sekitar aliran sungai. “Karena itu, kami sepakat tolak pembangunan sabo dam,” tandas Suwadji.

Usai memberikan pernyataan, warga kemudian keluar dari ruang pertemuan. Mereka memang hanya ingin mengutarakan aspirasinya saja tanpa ingin berdiskusi.

Usai mendengarkan tuntutan masyarakat, Syahril menyatakan berterima kasih. Ia berjanji akan menyampaikan aspirasi itu kepada pimpinan Kantor Balai Besar Wilayah Sungai Serayu-Opak yang kebetulan sedang tidak ada di kantor.

“Kami akan mempelajari aspirasi dari masyarakat ini,” janji Syahril.

Di luar pertemuan, Suwadji mengatakan sebagai pengganti pembangunan sabo dam, lebih baik pemerintah membangun talud di sepanjang aliran sungai. Sementara itu Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Yogyakarta, Suparlan mengatakan saat ini tidak tepat membagun sabo dam lagi. “Sekarang kan masih banjir lahar dingin, kok akan membangun sabo dam,” ujarnya. (foto dan teks: bambang muryanto)

Thursday, February 3, 2011

Desa Sirahan Terbenam Lahar Dingin

Bencana dari Gunung Merapi belum juga berhenti. Desa Sirahan, Salam, Kabupaten Magelang yang terletak sekitar 30 km di selatan Gunung Merapi pun tidak terhindar dari bencana. Banjir lahar dingin yang berasal dari Gunung Merapi dan mengalir melalui Kali Putih meluap dan membenamkan desa ini yang posisinya tidak jauh dari sungai itu.

Ratusan rumah di desa ini terbenam hingga ke atap rumah. Sebagian rumah hancur dan banyak penduduk yang tidak sempat menyelamatkan harta kekayaan mereka. Tampak seorang penduduk menjemur pakaian yang basah karena terbenam banjir lahar di atap rumahnya yang kini hanya beberapa centimeter dari permukaan tanah.

Akibat banjir lahar dingin yang dahsyat, kini Desa Sirahan menjadi berada di tengah aliran sungai. Hal ini disebabkan banjir lahar dingin merusak aliran Kali Putih sehingga air sungai memasuki wilayah tempat tinggal penduduk. (foto dan teks: bambang muryanto)

Bus Pariwisata Terjebak Lahar Dingin di Desa Jumoyo

Sebuah bus pariwisata terjebak banjir lahar dingin yang meluap dari Kali Putih yang melintasi jalan raya Yogyakarta - Semarang di Desa Jumoyo, Muntilan, Magelang, Jawa Tengah. Akibatnya material vulkanik (pasir) yang berasal dari puncak Gunung Merapi itu menutupi badan bus setinggi 60 cm.

Curah hujan yang tinggi di puncak Gunung Merapi awal Januari 2011 ini menyebabkan wilayah Desa Jumoyo sering menjadi langganan bajir lahar dingin. Selain menghancurkan rumah-rumah penduduk, banjir lahar dingin ini juga menyebabkan lumpuhnya jalur transportasi karena badan jalan tertutup material. (foto dan teks: bambang muryanto)

Banjir Lahar Dingin Menyapu Jumoyo


Setelah erupsi Gunung Merapi berhenti, bencana masih saja terjadi. Kali ini, hujan lebat yang turun di puncak Merapi menyebabkan banjir lahar dingin. Jutaan kubik material berupa pasir dan batu-batu besar dan kecil turun melalui sungai-sungai yang berhulu di gunung setinggi sekira 2980 meter itu. Salah satunya adalah Sungai Putih (Kali Putih), Januari 2011.

Bajir lahar dingin yang melewati Kali Putih menyebabkan putusnya jalur transportasi Yogyakarta - Semarang, di Desa Jumoyo, Muntilan, Magelang, Jawa Tengah. Banjir lahar ini juga menghancurkan rumah-rumah penduduk di Desa Jumoyo. Sejauh ini tidak ada korban jiwa dari penduduk di Desa Jumoyo karena setiap hujan turun, penduduk sudah mengungsi. Ini adalah contoh yang bagus dari praktek pengurangan resiko bencana. (foto dan teks: bambang muryanto)

Tuesday, December 28, 2010

Indahnya Gunung Merapi

Saat tenang, Gunung Merapi menawarkan pemandangan yang sangat indah, apalagi hawanya juga sejuk. Tak heran banyak orang datang mendekat untuk berwisata. Pemandangan yang indah ini masih kita dapatkan pada 24 Oktober 2010, dua hari sebelum Gunung Merapi ini erupsi. Gambar Gunung merapi diatas diambil dari jembatan yang melintas di atas Kali Kuning. (Foto dan teks: Bambang Muryanto)

Menyaksikan Gunung Merapi dari Kota Yogyakarta

Bila cuaca cerah, aktivitas Gunung Merapi dapat disaksikan dengan jelas dari Kota Yogyakarta di pagi hari. Asap tebal keluar dari puncak gunung dengan ketinggian sekira 2800 meter itu. Biasanya penduduk akan berdiri di jembatan. Di sana masyarakat dapat melayangkan pandangan ke utara tanpa terhalang bangunan, seperti dari jembatan yang terletak di barat perempatan Taman Sari. (Foto dan teks: Bambang Muryanto)

Wajah Puncak Gunung Merapi

Beginilah wajah puncak Gunung Merapi pada pagi hari, 26 Oktober 2010. Sorenya, gunung ini mengeluarkan erupsi besar. Terlihat sisi bagian selatan yang menganga. Inilah yang menjadi penyebab mengapa aliran material vulkanik dan awan panas menuju wilayah selatan, yakni Kabupaten Selatan dan Kabupaten Klaten. Selain meluluhlantakkan desa-desa yang berdekatan dengan Gunung Merapi, sejumlah penduduk pun meregang nyawa. (Foto dan teks: Bambang Muryant0)

Hujan Abu Guyur Yogyakarta

Erupsi Gunung Merapi menyebabkan hujan abu mengguyur Kota Yogyakarta. Seluruh kota menjadi 'putih'. Masyarakat pun dianjurkan memakai masker untuk menghindari debu vulkanik masuk ke rongga pernapasan. Wilayah yang paling berat terkena dampak abu vulkanik adalah di bagian utara, seperti Jalan Kaliurang. (foto dan teks: Bambang Muryanto)

Saat-saat Terakhir Umbulharjo yang Hijau

Tanggal 26 Oktober 2010, pagi hari, Gunung Merapi masih tampak tenang meskipun suara gemuruh sempat terdengar beberapa kali. Status sudah awas, namun seperti yang saya lihat pagi itu, penduduk masih naik ke lereng gunung yang hijau itu untuk mencari rumput. Hijau pepeohonan di kaki Gunung Merapi bak karpet indah dari Persia.

Suasana di Lava Tour, Umbulharjo pun masih biasa saja. Tidak ada pengamanan yang ketat. Banyak jurnalis yang masih liputan di wilayah yang berdekatan dengan rumah Mbah Maridjan, sang juru kunci Merapi. Seorang pemilik warung juga sedang mengemasi barang-barang dagangannya untuk dibawa pulang.

Namun sore hari menjelang Maghrib, situasi berubah! Gunung Merapi mulai erupsi! Suara dentuman terdengar, material vulkanik keluar disertai dengan wedhus gembel, awan panas yang begitu menakutkan.

Wilayah Umbulharjo yang semula hijau terbakar habis. Kini, semua pepohonan tumbang dan pasir menutupi segalanya. Semuanya pucat pasi.

Material vulkanik dan awan panas juga menerjang rumah Mbah Maridjan dan perkampungan penduduk di sekitarnya. Mbah Maridjan dan sejumlah penduduk meninggal akibat awan panas ini. Bencana Gunung Merapi pun mulai.... (foto dan teks: Bambang Muryanto)


Monday, December 27, 2010

Banjir Lahar Terjang Bronggang Suruh

Banjir lahar memasuki wilayah Dusun Bronggang Suruh, Argomulyo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta, Minggu (12/12). Hujan deras yang turun di wilayah puncak Gunung Merapi membawa material vulkanik yang menumpuk di Sungai Gendol yang berada tidak jauh dari Dusun Bronggang Suruh.

Karena material vulkaniknya masih panas, lahar yang memasuki dusun itu pun masih mengeluarkan asap. Akibatnya Dusun Bronggang Suruh seperti diselimuti kabut. Lahar ini juga melewati jalur alternatif Solo-Yogyakarta, akibatnya untuk sementara jalur ini ditutup.

Karena datangnya yang tiba-tiba, masyarakat sempat panik. (foto dan teks: Bambang Muryanto)


Eko Sulistio ‘Spesialis’ Pencari Korban di Wilayah Bencana Alam

Eko, berkaos dan celana merah




Suasana Desa Glagaharjo, Sleman, Yogyakarta yang terkena awan panas dari Gunung Merapi, Kamis larut malam (4/11) lalu, tampak suram dan lengang. Pepohonan dan rumah tertutup abu vulkanik. Pohon-pohon bambu yang ada di pinggir jalan, roboh sehingga menutupi jalan. Dengan sigap, Eko Sulistio turun dari mobilnya, segera memotong dan menyingkirkannya agar mobil rombongan penyelamat dapat lewat.



Setelah berjalan kaki beberapa ratus meter, tim tiba di Dusun Ngancar dan menuju sebuah rumah yang ditengarai ada korbannya. Eko dan timnya segera masuk dari belakang. Seorang korban yang terbakar dengan cepat diambil dan dibawa ke ambulan yang sudah menanti, Minggu (7/11).

Sementara itu, asap sulfatara yang pekat, bergumpal-gumpal keluar dari puncak Gunung Merapi. Hari itu tim evakuasi yang terdiri dari PMI, SAR, Kopassus dan para relawan lainnya berencana mengambil lima korban di dusun itu yang sudah diketahui lokasinya. Namun empat korban sisanya tidak dapat diambil karena berada di lokasi yang tutupan material vulkaniknya masih panas dan membahayakan. Tim evakuasi pun memutuskan melanjutkan pencarian esok pagi. Apalagi tim menerima kabar, awan panas sudah berpotensi muncul lagi.

“Korban yang ditemukan berada di kolong tempat tidur, kemungkinan sedang berusaha menyelamatkan diri,” ujar Eko saat meninggalkan Glagaharjo yang terletak sekira 15 km dari puncak Gunung Merapi. Peluh membasahi tubuh relawan berbadan tegap ini. Setelah melepas maskernya, ia membasuhkan cairan pembersih ke tangannya dan bagian lain dari tubuhnya yang ‘berbau mayat’ akibat kontak dengan korban yang dievakuasinya. Di maskernya terdapat dua bungkus teh celup untuk mengusir bau tidak sedap.

Eko (37 tahun) yang berasal dari Jakarta ini adalah salah satu dari sekian banyak relawan yang rela meninggalkan pekerjaannya dan datang ke Yogyakarta untuk membantu proses evakuasi korban bencana Gunung Merapi. Padahal di Jakarta, ia mempunyai bisnis paintball game yang menawarkan sensasi pertempuran.

Untuk bencana Gunung Merapi ini, ia membawa tim relawan miliknya sendiri yang bernama Spirit dan bergabung dengan tim relawan PKPU. Tim Spirit terdiri dari sembilan orang relawan dan didukung dengan sebuah jip Land Rover long chasis untuk transportasi tetapi juga berfungsi sebagai ambulan.

Bila mengikuti aksinya di lapangan, satu hal yang mengesankan adalah keberanian dan kecepatannya. Ia bersama timnya sudah mengevakuasi korban dari Desa Argomulyo, Jumat sekitar pukul 05.00 pagi. Padahal material vulkanik yang menutupi desa itu sejak Kamis (4/11) larut malam masih panas. Eko menggunakan kayu-kayu dari pepohonan yang roboh untuk berjalan agar sampai di lokasi korban berada. Salah satu relawan PKPU yang menjalankan misi bersamanya, kakinya terbakar karena terperosok ke material vulkanik yang masih panas itu.

Jumat siang, saat situasi tidak menentu karena kemungkinan awan panas akan meluncur, Eko dan timnya kembali menunjukkan keberaniannya lagi. Mereka masuk kembali ke Desa Argomulyo untuk mengambil korban lagi. “Kita aman karena dipandu tim yang terus memantau situasi Gunung Merapi,” ujarnya meyakinkan saya yang akan mengikuti misinya itu. Proses evakuasi pun dilakukan dengan cepat. Hasilnya, seorang korban lagi berhasil dievakuasi dan tim kecil ini segera melesat ke RS Dr Sardjito.

Perannya dalam melakukan evakuasi korban di wilayah Kabupaten Sleman cukup penting. Aksinya itu sering tertangkap kamera wartawan televisi. “You are a brave man,” ujar Almudena Ariza Nunez, seorang reporter Televisi E dari Spanyol yang sempat mengikuti aksinya.

Berkat keberanian dan kecepatannya, dalam dua belas hari sejak datang ke Yogyakarta 27 November lalu, Eko sudah mengevakuasi sekira 15 korban. Dalam bencana Gunung Merapi, kecepatan mengevakuasi korban sangat diperlukan. Sebab jika terlalu lama, korban akan segera remuk-redam terbakar material vulkanik sehingga proses identifikasi makin sulit dilakukan.

Misi Eko di Yogyakarta ini bukan yang pertama kalinya. Ia terpanggil menjadi relawan di wilayah bencana sejak banjir besar di Jakarta 2002 lalu. Sejak itu ia selalu datang ke wilayah bencana seperti tsunami di Aceh, gempa bumi di Padang, banjir bandang di Wasior, Papua dan masih banyak lainnya. Spesialisasinya, evakuasi korban. “Kalau memberikan bantuan makanan, banyak orang bisa. Tetapi evakuasi korban, tidak banyak yang bisa melakukannya,” ujarnya memberi alasan.

Dari berbagai wilayah bencana yang pernah didatanginya, bencana Gunung Merapi adalah yang paling bahaya dan menegangkan. Di wilayah bencana lain, pencarian korban dapat dilakukan dengan tenang, tetapi di Gunung Merapi, evakuasi korban dihantui kemungkinan munculnya awan panas. Itu sebabnya proses evakuasi korban memerlukan waktu lama karena mencari ‘celah’ saat awan panas tidak meluncur dari Gunung Merapi yang tingginya sekira 2800 meter itu. Material vulkanik yang panasnya bertahan lama juga menjadi kendala serius dalam mengambil korban.

Sebagai tim relawan kemanusiaan yang independen, Eko mengaku menanggung sendiri seluruh biaya yang dibutuhkan timnya. Padahal misi seperti ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Selain untuk biaya akomodasi, Eko juga membayar seluruh relawan yang tergabung dalam timnya.

Untung, banyak kawan-kawan kuliahnya dulu yang bersimpati dan siap menggalang dana bagi misi kemanusiaannya. Itu bisa dilihat di facebooknya. Saat di lapangan, sumbangan bisa datang dari siapa saja, termasuk aparat pemerintah. “Kemarin kita dikasih bensin sama polisi,” ujar Eman yang menjadi sopir Tim Spirit.

Kehidupan Eko memang penuh dengan misi kemanusiaan. Di rumahnya, ia mempunyai alat semprot (fogging) dan obatnya yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk membasmi malaria secara gratis. Ada pula ‘pasukan’ yang membagikan makanan bagi kaum miskin. Selain itu ia dan timnya juga siap melakukan pertolongan korban banjir di Jakarta

“Di sekolah, jika ditanya apa pekerjaan ayahnya, anak saya menjawab bapaknya relawan. Pekerjaannya menolong orang,” ungkap penggemar naik gunung ini yang ditekuninya sejak duduk di bangku SMA itu. Saat menjadi pecinta alam itulah, Eko belajar tentang bagaimana cara melakukan evakuasi.

Apa alasan Eko gemar melakukan misi kemanusiaan? Penggemar Land Rover ini tidak memberikan jawaban pasti. Prinsipnya, sebagai orang yang mempunyai kelebihan, ia harus berbagi dengan orang lain. Ia tidak suka ceramah, tetapi berusaha memberikan contoh dengan tindakan nyata. Itulah pesan yang ingin disampaikannya.

“Saya tidak tahu mengapa. Kalau saya jawab demi kemanusiaan, pasti klise. Yang jelas, dengan melakukan itu, saya bisa hidup tenang, makan enak, tidur nyenyak, itulah yang saya rasakan,” tambahnya lagi.

Hingga kini, masih banyak korban bencana Gunung Merapi yang belum ditemukan. Orang dengan keberanian dan kepedulian seperti Eko masih dibutuhkan di Gunung Merapi yang aktivitas vulkaniknya belum diketahui kapan akan kembali normal. (foto dan teks: Bambang Muryanto)