Showing posts with label Seni. Show all posts
Showing posts with label Seni. Show all posts

Thursday, April 7, 2011

Friday, August 20, 2010

Wukir, Musisi Bersenjata “Bambu Runcing”



Jika sedang beraksi di atas panggung, pemuda ini ibarat ‘magnet’ yang mampu menarik perhatian semua orang untuk melihat dan mendengarkan permainan musiknya. Itulah Wukir Suryadi (33 tahun) yang berhasil ‘menyulap’ sebilah bambu menjadi ‘gitar’ dan ‘biola’ sekaligus. Dengan alat musik ciptaannya yang ia namakan bambu wukir, seniman dari Malang (Jawa Timur) ini mampu ‘menyihir’ penonton untuk menikmati permainan bunyi hingga ia turun dari panggung.

Menikmati sajian musik Wukir, kita diajak bertamasya ke dunia bunyi yang indah dan beragam. Petikan dawainya (dari kawat) mengingatkan kita pada eksotisme suara alat musik siter (Jawa) atau kecapi (Sunda). Saat ia menggesek dengan bow, muncul suara biola yang elegan. Namun ketika jemari tangan kanannya mulai memetik dawai dengan cepat dan bertenaga dipadu dengan petikan jemari kiri pada dawai bambu, sontak muncul bunyi yang kuat dan bertenaga laksana permainan gitar musisi rock aliran heavy metal!

Ada begitu banyak bunyi yang dapat ia eksplorasi dari sebilah bambu runcing itu!

Tidak heran jika para penonton selalu meminta dirinya memainkan beberapa lagu lagi meski konsernya sudah selesai. “Saya jatuh cinta dengan karya senimu,” ujar Leli, seorang perempuan muda yang menyaksikan aksi Wukir dalam suatu pembukaan pameran seni rupa di Kafe Elpueblo, Yogyakarta. Wukir tersenyum, seluruh tubuhnya basah dengan peluh setelah ia tampil selama 25 menit.

Bambu wukir ini adalah sebilah bambu berdiameter 10 cm dan panjang 120 cm. Ada 11 dawai dari kawat (string) yang menempel dan delapan dawai bambu yang diserut langsung dari tubuh bambu itu. Ujung setiap dawai bambu ini masih menempel langsung pada bambu itu. Di bagian tengah ada sebuah lubang resonator. Alat musik ini juga dilengkapi pick up sehingga dapat dihubungkan langsung dengan sound system.

Sedangkan di ujung bagian atas, dibuat tajam sehingga menyerupai bambu runcing, senjata rakyat Indonesia untuk melawan penjajah dahulu kala. Wukir ingin mengambil spirit bambu runcing yang membebaskan bangsa Indonesia dari penjajah. “Dengan bambu wukir, saya ingin memerdekakan diri saat bermain musik. Saya tidak mau terjebak dalam genre tertentu,” ujarnya saat ditemui di kostnya, di Patangpuluhan, Yogyakarta.

Kamar kosnya yang bercat kuning seluas 5x6 meter itu penuh dengan lukisan karya istrinya, Stufvani Gendis Gula Jawa. Setelah di Surakarta, Wukir memilih tinggal di Yogya untuk mengasah kekayaannya dalam berkesenian dan mengembangkan jaringan.

Wukir menemukan alat musiknya ini tahun 2008 ketika tinggal di Pulau Bali. Bambu wukir adalah ‘muara’ proses pencarian bunyi yang dilakukannya selama bertahun-tahun. Sebelumnya, ia pernah menciptakan beberapa instrumen musik, salah satunya dengan menggunakan senapan. Tetapi bambu wukir adalah yang paling sempurna. Semula ia menamakan gitar bambu tetapi seorang temannya dari Bandung mengatakan nama itu tidak tepat lebih baik namanya bambu wukir. Dan Wukir menyetujuinya.

Bambu menjadi pilihannya karena materi ini mudah ditemukan di seluruh Indonesia dan sudah menjadi medium alat-alat musik tardisional. “Dalam menciptakan bambu wukir, saya mendapat inspirasi dari khasanah musik tradisional,” ujar Wukir.

Sejak kecil, Wukir sudah suka musik. Namun ia justru masuk ke dunia teater sejak masih duduk di bangku SD. Ia bergabung dengan Teater Idiot di Malang, Teater Ragil (Surabaya) dan Bengkel Teater asuhan Almarhum WS Rendra. Wukir sendiri adalah nama pemberian Rendra, nama sebenarnya hanya Suryadi. Di dunia teater, Wukir yang belajar musik secara otodidak itu bertugas sebagai penata musik. Ia mengeksplorasi bunyi dari berbagai alat musik dan perkakas.

Sebagai seniman, ia selalu gelisah memikirkan seni musik di Indonesia dan mengeksplorasi berbagai bentuk bunyi baru. Untuk menjawab kegelisahannya itu, Wukir sering berdiskusi dengan para seniman musik yang menjar di perguruan tinggi seni. Ia juga menimba ilmu dari seniman musik terkemuka di Indonesia, seperti I Wayan Sadra, Slamet Abdul Syukur, Harry Rusli, dan banyak seniman musik kontemporer lainnya.

Kini, setelah menemukan bambu wukir, ia mulai berkarya. Kenyataan hidup, apa yang ia lihat dan dengar adalah sumber inspirasi proses kreatifnya. Dengan mengandalkan ingatan, ia menciptakan bunyi dan mengulang-ulangnya hingga tercipta sebuah karya musik. Sang istri mengawasi proses ini, jika berubah, dialah yang mengingatkan.

Kebanyakan karya musiknya berbentuk instrumental. “Biar masyarakat yang menterjemahkan (arti dari musiknya) sendiri,” ujar Wukir yang banyak terlibat dalam berbagai even kesenian itu. Embi C Noor, seorang seniman musik terkemuka di Indonesia pernah menulis soal “Ambience Experiment” (salah satu tour yang dilakukan wuki) berpendapat Wukir dengan alat musik ciptaanya tidak sekedar menghadirkan suatu tontotan tetapi menciptakan suatu peristiwa musik.

Jika ada yang berpendapat musiknya terkadang kental dengan unsur musik rock, Wukir tidak mengingkarinya. Ia memang suka musik rock, seperti Led Zepplin, The Doors dan System of Down. Tetapi ia juga menikmati musik kalsik

Sejak 2008, Wukir sudah menelurkan dua album, yaitu “Yehezkiel” dan “Atas Nama Bunyi” yang covernya adalah lukisan karya istrinya. Ia juga sempat rekaman bersama Yusuke Akai, pemain gitar asal Jepang yang lama bermukim di Australia.

Wukir juga menggelar pentas di berbagai tempat. Tahun lalu selama hampir 3,5 bulan ia bersama sahabatnya Ilham J Baday (artis performance art) menggelar tour “Ambience Experiment” di 18 kota, salah satunya di Sidoarjo untuk memperingati tiga tahun korban Lumpur Lapindo dan di Rumah Sakit Jiwa Magelang. Riwayat hidupnya menunjukkan ada puluhan aktivitas seni yang pernah dijalaninya. Kini ia sibuk memenuhi undangan untuk tampil dalam berbagai acara seni. “Kebanyakan tampil dalam pembukaan pameran seni rupa,” ujar Stufvani.

Tawaran untuk tampil di luar negeri juga mulai diterimanya. Ini adalah keinginannya yang terpendam selama ini. Ia sempat diundang tampil di Australia, tetapi tidak dapat dipenuhi karena pihak pengundang hanya menyediakan satu tiket, padahal Wukir ingin mengajak istrinya yang juga manajernya itu.

Sebagai penemu bambu wukir, pria kurus ini ingin kelak ada musisi lain yang mau menggunakan bambu wukir. “Saya berharap ada band yang menggunakan bambu wukir dalam bermusik dan menjadi terkenal, misalnya seperti Metallica,” ujarnya. (Bambang Muryanto)

Thursday, September 3, 2009

Jogja Art Festival #2, Spacing Contemporary

Beberapa hari lalu, saat melintas di kawasan Taman Budaya Yogyakarta, saya sempat kaget karena gedung utama yang biasa untuk pameran seni lukis ‘hilang’. Dimana gedung berwarna putih itu? Ya ternyata gedung itu ‘hilang’ karena ada perubahan interior di bagian mukanya. Seluruh bagian muka gedung ditutup dengan seng yang menjadi media bagi mural karya Farhan Siki. Sedangkan tepat di depan pintu masuk yang berhiaskan huruf JAF, terdapat sebuah karya berujud rumah yang terbuat dari bongkahan-bongkahan dinding. Ini adalah karya instalasi dari S Teddy D.

Begitulah situasi di Taman Budaya Yogyakarta yang sedang menjadi ajang pameran seni rupa dengan tajuk Jogjakarta Art Festifal (JAF) #2. Tema pameran dengan kurator Aminuddin TH Siregar ini adalah Spacing Contemporary. “Sebagai upaya untuk mendefinisikan pola teratur di dalam ruang perkembangan mutakhir antara praktik seni rupa, antara kecenderungan, motif, gagasan dan pemikiran,” ujar Aminudin dalam pernyataan tertulisnya..

Melihat pameran ini, pengunjung akan dipaksa menghabiskan banyak waktunya untuk menikmati berbagai karya seni. Bayangkan saja ada 142 karya yang mejeng dalam pameran yang berlangsung dari tanggal 18 Agustus hingga 5 Sepetember 2009. Selain seni rupa, pengunjung atau bahkan calon pembeli dapat menikmati karya berupa tiga dimensi, street art, fotografi, video, new media art dan lain sebaginya. Lengkap!

Satu yang menarik perhatian adalah karya Rennie ‘Emonk’ Agustine F dengan judul Metamor’pop’is. Dengan media kayu, ia membuat visual penis yang berukuran 50 cm hingga 90 cm. Di tiap-tiap penis yang sebetulnya tampak seperti orang bertopi sedang berdiri itu, ia menggambarkan wajah-wajah si Raja Pop Dunia, Michael Jackson yang mengalami proses perubahan alias metamorposis.

Di luar ruang pameran, karya seni dalam wujud street art dipamerkan secara ‘live’ yang langsung dapat disaksikan publik. Love Hate Love Plus membuat karya mural di beberapa sudut kota Yogyakarta, misalnya di wilayah plengkung Gading, Gondomanan dan pojok beteng. Karya mural ini sekaligus juga menginformasikan kepada publik jika di Yogyakarta sedang berlangsung Jogjakarta Art Festival.

JAF #2 merupakan kelanjutan dari JAF pertama yang berlangsung tahun lalu. Akankan festival kali ini akan sesukses atau lebih sukses dari pameran sebalumnya? Sejarah yang akan membuktikannya.

Thursday, August 27, 2009

Tarian Traktor Yogya dari Heri Dono



Seniman selalu mempunyai ide 'liar' dalam berkarya. Itu pula yang dilakukan Heri Dono saat menampilkan karyanya yang berjudul "Tarian Traktor Yogyakarta" di alun-alun utara beberapa waktu lalu. Performance art ini merupakan bagian dari upacara pembukaan pameran karya Heri Dono yang berjudul "Heridonology".

Malam itu, sejumlah masyarakat Yogyakarta dan komunitas seniman menyaksikan ekskavator atau biasa dinamakan bego menari. Ia memutar-mutarkan alat pengeruknyanya hingga 'jumping' dengan cara menekan alat pengeruknya atau belalainya ke bawah sehingga bodi bego sedikit terangkat ke atas.

Dalam penjelasannya, pembawa acara mengatakan bego menyimbolkan dua hal yang berbeda. Di satu sisi ia dapat menjadi alat atau sarana melakukan pembangunan tetapi di sisi lain bego juga dapat menjadi alat perusak lingkungan. Lihatlah misalnya pengerukan pasir di lereng Gunung Merapi dimana menjadi 'habitat' bego.

Sementara bego menari, beberapa orang melakukan atraksi yang kira-kira menggambarkan bagaimana mereka merusak alam. Seekor Gajah dari besi dibakar, simbol aktivitas manusia yang melakukan perusakan terhadap alam. (foto dan teks: bambang muryanto)

Wednesday, August 26, 2009




Ada banyak cara yang bisa dilakukan civil society dalam mengontrol proses pemilu 2009 lalu. Salah satu komunitas seni di Yogyakarta, Taring Padi (TP) melakukan fungsi kontrol dengan cara membuat poster dan ditempel di beberapa sudut kota Yogyakaarta. Poster yang dibuat dengan teknik cukil itu membawa beberapa pesan untuk masyarakat, misalnya agar kritis memilih calon pemimpin, memilih atau tidak memilih adalah hak warga negara, jabatan itu bukan sarana untuk korupsi dan lain sebagainya. (foto dan teks: bambang muryanto)

Tuesday, August 25, 2009

Rinding, Alat Musik Khas dari Desa Beji, Gunungkidul




Oleh: Bambang Muryanto

Jika ada kesempatan, cobalah mengunjungi Desa Beji, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Gunungkidul. Memang agak jauh dari Kota Yogyakarta, sekira 45 kilometer. Tetapi setiba di sana, anda akan mendapat pengalaman berharga karena mempunyai kesempatan menyaksikan penduduk memainkan alat musik yang langka dan mungkin hanya dapat ditemukan di desa itu, namanya rinding.

Alat musik ini cukup sederhana karena terbuat dari sebilah bambu berukuran 5x20 Cm. Di bagian tengah ada sebuah lubang memanjang dari kanan ke ke kiri yang membentuk pola seperti garpu tala atau huruf Y. Posisinya kaki huruf Y atau pegangan garpu tala ada di sebelah kiri. Seutas tali diikatkan di ujung sebelah kanan.

Cara memainkannya, pegang rinding dengan kedua tangan dan letakkan dengan posisi rinding bagian kiri ada di depan mulut yang terbuka. Selanjutnya tarik tali dengan tangan kanan. Tarikan ini menyebabkan bagian bambu yang membentuk garpu tala atau huruf Y, terutama pada bagian kakinya bergetar. Ketika udara dihembuskan dari rongga mulut dan mengenai bagian bambu yang bergetar akan menimbulkan suara. Terus terang, saya sulit untuk mendiskripsikan suara itu karena memang cukup aneh.

Kalau tidak salah, suku Aborigin di Australian juga mempunyai alat musik seperti ini. Hasil suara yang dihasilkannya juga tidak berbeda jauh. “Semakin kuat hembusan nafas dari mulut akan menghasilkan bunyi yang semakin keras,” ujar Siswanto Tukimin (66) warga Desa Beji.

Walaupun sudah berumur, Siswanto masih kuat memainkan rinding sekira satu menit. Asal tahu saja, untuk memainkan alat musik sederhana ini ternyata memerlukan tenaga besar karena sang pemain harus terus bernafas seraya menghembuskan udara keluar melalui mulut dan tidak melalui hidung. Itulah sebabnya rinding harus dimainkan secara berkelompok (sekira 10 hingga 15 orang) sehingga sebuah lagu bisa dibawakan secara estafet oleh para pemainnya.

Muhammad Kasno (77), salah seorang tetua Desa Beji mengatakan alat musik rinding adalah hasil kreasi nenek moyang penduduk Beji. Terutama adalah pepunden mereka yang bernama Onggoloco. Sejarah lisan yang hingga kini masih dipercaya menarasikan jika Onggoloco adalah salah satu patih dari Kerajaan Majapahit yang ketika runtuh, melarikan diri hingga ke wilayah Gunungkidul. Ia kemudian membuka hutan dan menetap di Desa Beji.

Kasno, pria yang mempunyai alis tebal itu mengatakan penduduk Beji biasa memainkan rinding dalam pesta rakyat untuk menyambut panen padi. Setahun sekali, penduduk Beji juga punya tradisi sadranan untuk menghormati Onggoloco. “Jika ada permintaan, kita bisa juga memainkan rinding dalam upacara sadranan,” ungkap Kasno. Dalam berbagai kesempatan, pemerintah Kabupaten Gunungkidul sendiri juga sering menampilkan pertunjukkan kesenian rinding.

Biasanya, rinding tidak tampil sendiri. Dalam sebuah pertunjukkan, rinding akan dikombinasikan dengan gubeng, sebuah alat musik dari bambu yang menimbulkan suara bila dipukul. Kombinasi permainan ini namanya rinding gubeng.

Nah, jika anda penasaran dengan suara rinding dan bagaimana cara memainkannya, silakan datang berkunjung ke Desa Beji, Ngawen, Gunungkidul, Provinsi Yogyakarta. Perpaduan suara rinding dengan suasana pedesaan akan memberikan pengalaman batin yang sungguh indah….

Wednesday, April 15, 2009

Friday, January 30, 2009

Menikmati “Pesta Gagasan” di Ars Longa



“Pesta Gagasan”, begitulah tema pameran seni rupa di galeri ArsLonga yang berada di kawasan Mantrigawen Lor, Yogyakarta. Ada sekira 44 karya seni, baik lukis, patung dan instalasi dari 23 seniman yang siap dinikmati. Sungguh suatu tema yang cukup menarik!

Memasuki ruang pameran, mata para penikmat seni akan tertumbuk pada karya instalasi yang terletak di sisi kanan. Itu adalah karya instalasi dari Kris yang berjudul “Red Koro” yang provokatif. Visualnya, sebuah penis terbuat dari kayu yang sedang ereksi. Dari lubang penis ada selang yang ujungnya masuk ke mulut patung kepala pria yang berwarna merah. Di sekitar pangkal penis dan ujungnya terdapat bercak-bercak putih yang mangasosiasikan kepeda sperma.

AA Nurjaman, kurator pameran ini mengatakan sengaja memberi kelonggaran kepada masing-masing perupa untuk menampilkan karya-karya terbaiknya berdasarkan kemurnian gagasan, bukan pada selera pasar yang sedang digandrungi saat ini. Hasilnya sadalah parade karya seni yang bermacam-ragam dan kental dengan kritik sosial.

Marwan, seorang seniman muda menampilkan karya lukisnya yang berjudul “Menolak Mengikuti Pesta”. Karya ini mencoba melakukan kritik terhadap kebijakan pemerintah yang mengeluarkan UU BHP (Badan Hukum Pendidikan) yang menurut para kritikus menyebabkan biatya sekolah menjadi kian mahal.

Sedangkan tepat di tengah ruang pameran, ada patung sebatang pohon – terbuat dari besi -- tanpa ada satu daun pun. Seekor burung yang terbuat dari alumunium, hinggap di salah satu cabangnya. Patung karya Tree Suharyanto yang berjudul “Nyanyian Hijau yang Hilang” ini mencoba mengkritisi peri laku manusia moderen yang gemar membabat hutan sehingga menyebabkan berbagai bencana alam.

Namun tidak semua karya seni yang terpajang dalam pameran itu kental dengan kritik sosial. Karya lukis dari Widodo yang berjudul “Wine” atu Diyah Yulianti yang berjudul “Naik cahaya” tak membwa pesan tentang kritik sosial. Dalam pesta gagasan, ini tentu sah saja.

Menyaksikan pameran seni rupa yang digelar dari 25 hingga 31 Januari ini, masyarakat selain dapat menikmati keindahan suatu karya seni juga ‘diingatkan’ dengan berbagai persoalan yang hadir di hadapan mereka. Mereka Anas Etan, Andri Susilo, Dyah Yulianti dan yang lain seolah membawa obor yang menujukan ‘peta persoalan sosial’ yang ada di masyarakat. Ya, para seniman sejatinya juga guru bagi masyarakat luas yang kadang terlena dari persoalan-persoalan sosial karena terlalu berat memikirkan jalan kehidupan yang makin sulit. (Bambang MBK)


Wednesday, January 30, 2008

Brocade's Platoon karya Titarubi


Brocade's Platoon adalah seni instalasi karya perupa Titarubi yang dipamerkan dalam ajang Biennale Yogya 2007 dengan tema Neo-Nation (28 Desember 2007 - 28 Januari 2008). Karya ini dipasang di Gedung Sasana Ajiyasa, Jogja National Museum.

Karya ini mencoba untuk melakukan kritik terhadap perilaku militerisme yang kental dengan kekerasan yang secara tidak sadar banyak dianut masyarakat kita. Hanya karena persoalan kecil saja, itu sudah cukup bagi masyarakat untuk mengamuk dan menebarkan aksi kekerasan.

Dalam imajinasinya, Titarubi menggambarkan dalam bentuk 30 figur tentara (terbuat dari manekin seukuran manusia) yang ditelanjangi dan hanya dibungkus dengan kain brokat. Figur tentara ini dipasang dalam formasi berbaris, sesuatu yang menjadi ciri khas personil militer. Saat menyaksikan karya ini, ada seorang seniman yang tiba-tiba meniup terompet. Suasana militeristik menjadi kian menggumpal.

Mungkin dengan penelanjangan itu, Titarubi hendak mengatakan mereka kaum militer dalam kondisi telanjang, tanpa pangkat dan senjata apapun, mereka adalah manusia biasa. Di malam hari, karya ini makin terasa indah karena ada sinar lampu yang memancar dari masing-masing manekin tentara yang tidak berwajah dan bersepatu lars. (Bambang MBK)