Showing posts with label profil. Show all posts
Showing posts with label profil. Show all posts

Thursday, December 30, 2010

Duta Batik di Negara Sakura


Perempuan bertubuh kecil yang sangat mencintai seni batik ini bernama Sumiko Kato. Usianya 73 tahun, tetapi ia masih bersemangat membuat karya lukis batik. Penerbangan Jepang-Indonesia selama 6 jam lebih tidak menghalanginya datang ke Yogyakarta satu atau dua kali setiap tahun. Saat berada di Indonesia, Sumiko ‘bertapa’ di rumah kontrakan sederhana di kawasan Tirtonirmolo, Bantul untuk menghasilkan karyanya dengan media kain berukuran besar.

Sumiko adalah salah satu dari sedikit warga Jepang yang secara serius menekuni seni lukis batik, khususnya yang berasal dari Yogyakarta. Semua karyanya tersimpan di rumahnya yang berumur 200 tahun di tengah hutan Kanazu-Sousaku di wilayah kota Awara, Fukui, Pulau Honshu, Jepang. Tak jauh dari rumahnya menjulang Gunung Fujiyama yang indah.

“Saya suka tinggal di hutan karena sunyi,” ujar Sumiko dalam bahasa Indonesia yang terbata-bata. Di hutan seluas 300 x 700 meter itu, tinggal 6 seniman lainnya. Ada pula sebuah museum untuk memamerkan karya para seniman yang tinggal di hutan Kanazu-Sousaku itu. Dengan demikian masyarakat Jepang dapat melihat dan menikmati keindahan seni batik karya Sumiko.

Karya lukis batiknya yang rata-rata berukuran lebih dari 1x 2 meter (tanpa bingkai) itu banyak bercerita tentang alam dan religiusitas. Selain menggunakan teknik lukis, Sumiko yang mantan guru seni untuk ana-anak SD dan SMP ini juga menggunakan motif batik Jawa untuk karyanya. Melalui proses teknik batik, wanita yang ramah ini dapat menghasilkan karya lukis batik yang memikat.

“Efek teknik batik menjadi lahan yang dieksploitasi habis-habisan dengan cara pandang modern maka terwujudlah karya lukisan modern yang kreatif dan berkepribadian,” ujar Sudarisman, dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, sekaligus guru Sumiko saat memberikan sambutan dalam pameran tunggal Sumiko di V-Art Gallery, Yogyakarta Oktober 2007 lalu. Ini adalah pamerannya yang kedua di Indonesia.

Di wilayah Fukui sendiri, Sumiko, nenek dari dua cucu ini adalah satu-satunya artis yang menggeluti seni batik. Tidak hanya sekedar berkarya, Sumiko juga aktif memperkenalkan seni batik kepada masyarakat Jepang. Kadang-kadang ada rombongan anak-anak SD atau SMP datang ke rumahnya di hutan Kanazu untuk belajar membatik.

Ia juga mempunyai klub seni batik yang bernama Hamuro. “Saya mempunyai kelas belajar membatik setiap minggu kedua,” ujarnya pada suatu siang. Teh manis yang dingin menemani perbincangan kami dengan Sumiko. Tak lama kemudian ia berangkat ke Ardiyanto gallery untuk melakukan pewarnaan terhadap karya lukis batiknya dengan media kain beludru yang berjudul “Ombak di Laut Musim Dingin”.

Dalam pertemuan selanjutnya, Sumiko meminjamkan sebuah CD rekaman saat ia tampil dalam acara “Oshare Kobo” yang ditayangkan televisi NHK. Dalam acara itu Sumiko bercerita tentang batik dari Indonesia, memperlihatkan koleksi kain batiknya dan memperagakan bagaimana cara membuat batik. Ia membuat warna alami dari sejenis rumput bernama kadiasu. Sedangkan untuk mendapatkan kesan warna tua, ia menggunakan air hasil larutan besi berkarat.

Kecintaan Sumiko kepada batik, khususnya dari Yogyakarta, berawal saat ia berkunjung ke Yogyakarta tahun 1987. Ketika berbelanja batik di sebuah toko batik di Prawirotaman, Yogyakarta, Sumiko langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. “Batik mempunyai gambar yang indah dan kuat sekali,” ujarnya. Sejak itu, timbul keinginannya untuk kembali lagi ke Indonesia guna belajar batik.

Akhirnya kesempatan bagi alumnus Universitas Fukui ini untuk mendalami batik mulai muncul pada tahun 1993. Waktu itu Sumiko yang sudah pensiun sebagai guru di SMP. Sadar faktor bahasa menjadi kendala, Sumiko memutuskan untuk belajar bahasa Indonesia dahulu selama beberapa bulan di Unversitas Indonesia tahun 1993.

Tahun 1994, ia datang kembali ke Yogyakarta untuk belajar batik. Sumiko yang berusia 58 tahun itu masuk ke Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Di luar jadwal kuliah, Sumiko belajar batik di beberapa studio batik milik para seniman di Yogyakarta. Salah satunya di studio batik milik Budi Untung.

Bagi Sumiko yang sudah melukis sejak umur 12 tahun itu, batik bukanlah sesuatu yang baru. Tahun 1973, ia sudah menekuni batik khas Jepang dengan menggunakan parafin. Beberapa karya lukisnya ada yang mendapat penghargaan

Tahun 1996, Sumiko berhasil menyelesaikan kuliahnya di ISI. Sebagai kata perpisahan sebelum kembali ke Jepang, ia memamerkan karya lukis batiknya di Bentara Budaya, Yogyakarta yang dilanjutkan di Jepang ketika ia tiba di sana.

“Kata orang, karya saya bagus,” ujarnya Sumiko yang masih kelihatan muda dari usia sebenarnya itu. Itu sebabnya, ada saja orang yang ingin membeli karyanya walaupun ia berkarya tidak untuk tujuan komersial.

Sejak menyewa rumah di Tirtonirmolo pada 2001, Sumiko datang ke Indonesia, paling tidak dua kali dalam setahun. “Jika sebentar, hanya dua minggu tetapi jika lama bisa sampai satu bulan,” ujar istri dari Komyo Kato ini.

Berada di Indonesia adalah waktu yang tepat untuk membuat karya lukis batik. Alasannya hasil karya lukis batik akan lebih bagus jika prosesnya dilakukan di Indonesia. Panas matahari dan angin di Indonesia mempunyai pengaruh besar dalam proses pengeringan batik. Di Indonesia pula ia mudah menemukan teman-teman yang mau membantunya dalam proses pembuatan batik.

Selain cinta dengan batik, Sumiko juga jatuh cinta dengan masyarakat dan kebudayaan Jawa. Bahkan saat kuliah, sempat mempunyai beberapa anak asuh di Kabupaten Gunungkidul. Di Yogyakarta, ia selalu pergi kemana-mana dengan naik bus kota. Kecintaan ini pula yang mendorong alumnus Universitas Fukui ini pernah mengadakan pameran kebudayaan Jawa di Jepang.

Sumiko merasa bahagia saat membuat karya di Indonesia. “Saya selalu merasa lebih sehat dan kembali muda setelah membuat batik di Indonesia,” ujarnya

Di masa tuanya, Sumiko seolah mendapat ‘wahyu’ agar mengabdikan hidupnya untuk batik. Jauh di lubuk hatinya, Sumiko masih memendam keinginan untuk memperkenalkan batik ke seluruh dunia. Inilah mimpinya yang lain.

“Hidup saya menjadi lebih bermanfaat untuk batik,” ujarnya. Menjelang sore hari, saya mohon diri dari rumah kontrakannya yang terjaga kebersihannya itu. Duta batik di Negara Sakura itu akan pergi ke Vihara Budha di salah satu pojok Kota Yogyakarta, tentu saja dengan naik bus kota. Sayonara, Bu Sumiko! (Foto dan teks:Bambang Muryanto)

Artikel ini pernah dimuat di The Jakarta Post 12 Maret 2010

Wednesday, February 17, 2010

Mbah Kromo Suwito, Supergirl dari Deles!



Gunung Merapi sudah tertutup awan saat saya bersama beberapa teman pengamat burung dari Yogyakarta memutuskan kembali ke posko karena hujan tampaknya akan turun. Ketika kami istirahat setelah berjalan mendaki bibir jurang yang berada di wilayah Deles, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, sayup-sayup terdengar suara orang bersiul. Dari kelokan jalan, muncul seorang perempuan renta menggendong segepok besar dedauan dan rumput di punggungnya. Ia merangkak perlahan-lahan, kedua tangannya memegang semak atau bebatuan. Siulan itu ternyata adalah suara udara yang terpompa keluar dan bergema saat lewat di mulutnya yang ompong. Ia terengah-engah….

Kami semua takjub melihat sang nenek ini. Dengan tubuh yang sudah renta, ia masih kuat membawa beban di punggungnya dan mendaki bibir jurang dengan kemiringan hampir 90 derajad! Siapa yang masih berani mengatakan bahwa perempuan adalah makhluk yang lemah?

“Nama saya, Kromo Suwito,” ujarnya dalam bahasa Jawa setelah duduk bergabung dengan kami yang sedang istirahat. Bongkahan daun dan rumput yang berada di punggung, ia letakkan dan menjadi sandaran duduk. Pakaian yang membungkus tubuhnya yang kurus itu adalah blus lusuh, kain jarik dan kerudung untuk menangkis panasnya sinar matahari.

Seperti sudah berkenalan lama, kami pun berbincang-bincang dengan akrab. Mbah Kromo mengaku berumur 90 tahun. Mungkin kurang atau lebih, tidak ada kepastian karena ia adalah ‘produk lama’ yang pasti tidak mempunyai akte kelahiran. Urusan umur, cukup dikira-kira saja.

“Kenapa masih bekerja mencari rumput, Mbah?” tanya salah seorang dari kami. Mbah Kromo menjawab ia harus tetap bekerja karena suaminya sakit-sakitan. Setiap hari sang suami hanya bisa tiduran di atas amben. Kami semua mendengarkan dengan mata lekat menatap sosok tua yang masih menyimpan semangat hidup dan tenaga yang luar biasa itu.

Setiap dua hari sekali, Mbah Kromo harus ke hutan untuk mencari makan bagi dua ekor kambingnya. Ia berangkat jam 7 pagi dari rumahnya di Desa Gumuk Rejo dan baru tiba kembali di rumah sekitar jam 3 sore. Wuih, hampir membutuhkan waktu satu hari baginya untuk mencari makanan bagi dua ekor kambingnya.

Ia memang sudah tidak muda lagi sehingga tidak bisa bergerak cepat. Dan ia juga tidak cukup kaya seperti penduduk lainnya yang mampu membeli motor sehingga dapat pergi dan pulang dengan mengendarai motor. Memang, saya melihat banyak penduduk pergi ke hutan dengan naik motor. Pekerjaan mencari rumput menjadi lebih ringan karena bungkahan rumput dapat diboncengkan.

Bila sedang mencari rumput atau ramban di hutan, Mbah Kromo mengaku sering melihat kijang atau kera ekor panjang. Tetapi ia tidak pernah berjumpa dengan binatang buas, seperti macan atau harimau. Di lereng Gunung Merapi, binatang buas jenis ini konon masih ada.

Jika kambingnya sudah layak jual, maka Mbah Kromo akan menjualnya. Dari hasil penjualan ternak inilah, ia membeli makanan untuk menyambung hidup bersama suaminya. “Saya mempunyai seorang anak yang bekerja di Kalimantan,” ujarnya. Namun sang anak tidak pernah mengirimkan uang bagi dirinya.

Ketika kami mulai berjalan lagi, salah seorang teman berinisiatif membawakan ramban Mbah Kromo. Semula Mbah Kromo menolak, tetapi teman saya tetap bersikeras ingin membantunya. “Tidak apa-apa, Mbah. Hari ini Simbah istirahat,” ujarnya sambil meletakkan bongkahan ramban di atas kepalanya.

Setelah sampai di atas jurang yang berdekatan dengan jalan besar menuju ke desa, kami pun berpisah. Dalam pikiran saya masih membekas, betapa hebatnya perempuan desa ini. Dalam usia 90 tahun, ia masih kuat naik-turun jurang, berjalan masuk ke hutan, bekerja keras untuk mencari makan bagi dua ekor kambingnya.

Usia boleh tua, tetapi semangat kerja masih tinggi. Bagi Mbah Kromo tampaknya maut masih jauh dari dirinya. Seperti pernah dikatakan Pramoedya Anantatoer,”Gairah kerja adalah pertanda daya hidup. Sebenarnya orang yang tidak suka bekerja, ia sedang berjabat tangan dengan maut”. Dia memang supergirl dari Deles! (foto dan teks: bambang muryanto)

Saturday, December 12, 2009

ET Paripurno Pejuang Pengurangan Resiko Bencana Berbasis Masyarakat


Oleh: Bambang Muryanto

Tanggal 16 Juni 2009, jarum jam menunjukan pukul 19.00 namun matahari masih bersinar terang di Jenewa, Swiss. Di hadapan para peserta Second Session of The Global Platform for Disaster Risk Reduction yang hadir di gedung Centre International de Conferences Geneva (CICG), berdiri tegap seorang pria Indonesia mengenakan kemeja batik. Dia adalah Dr. Eko Teguh (ET) Paripurno (47), dosen Fakultas Teknologi Mineral, jurusan Geologi, Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Yogyakarta. Senyumnya mengembang ketika UN Under Secretary General for Humanitarian Affair, John Holmes menyerahkan penghargaan United Nations Sasakawa Award for Disaster Reduction plus uang sebesar 50.000 dolar AS.

Ya, ia layak bahagia dan bangga karena menjadi orang pertama di Asia Tenggara yang menerima penghargaan ini sejak Sasakawa Award dimulai tahun 1986. Namun dengan rendah hati ia mengatakan, “Penghargaan ini tidak hanya untuk saya pribadi tetapi juga untuk pemerintah, organisasi non pemerintah, organisasi berbasis masyarakat dan khususnya masyarakat di daerah rawan bencana yang mempunyai komitmen terhadap usaha-usaha ini (pengurangan resiko bencana),” ujarnya saat berpidato usai menerima penghargaan ini.

ET Paripurno mendapat penghargaan ini karena sumbangan dan komitmennya yang luar biasa terhadap proses pengurangan resiko bencana dan pembangunan kapasitas bagi masyarakat di kawasan beresiko bencana di Indonesia. Apa yang ia lakukan itu dianggap sejalan dengan Hyogo Framework, prinsip-prinsip pengurangan resiko bencana yang sudah disepakati masyarakat internasional. Selain dia ada lima orang perwakilan organisasi lain yang mendapat penghargaan, namun ET Paripurno mendapat penghargaan paling tinggi dan satu-satunya yang mendapat hadiah uang.

“Dr Paripurno and the other awardees have made difference in reducing disaster risk by building a strong knowledge base and resilience amongst highly vulnerable communities,” ujar Assistant Secretary-General for Disaster Risk Reduction, Margareta Wahlstrom dalam pers rilis yang dikeluarkan United Nations International Strategy for Disaster Reduction (UNISDR).

Kang ET, demikian ia sering dipanggil, memang orang yang menaruh perhatian besar terhadap pengurangan resiko bencana. Melalui berbagai jaringan yang dipegangnya, ia aktif memberikan pelatihan tentang pengurangan resiko bencana kepada masyarakat yang tinggal di wilayah rawan bencana di seluruh Indonesia, para politisi, pejabat pemerintah, jurnalis, aktivis NGO dan lain sebagainya. Bapak dari dua anak ini juga menjadikan dirinya sebagai alat penyebar pengalaman pengurangan resiko bencana dari satu masyarakat kepada masyarakat lainnya.

Selama 15 tahun, ia telah terlibat di lebih 750 proyek manajemen pengurangan resiko bencana di 20 propinsi di Indonesia. Secara tidak langsung, ET Paripurno juga telah melibatkan ribuan orang dalam isu pengurangan resiko bencana di negara yang rentan terhadap berbagai hazard bencana alam ini. Memang, penyuka naik gunung ini sudah lama bicara penanggulangan resiko bencana alam ketika belum banyak orang Indonesia melakukannya pasca terjadinya beberapa gempa besar sejak akhir 2004 lalu.

Perhatiannya yang besar terhadap pengurangan resiko bencana menyala setelah ia menyaksikan Gunung Merapi di Yogyakarta, salah satu gunung berapi paling aktif di Indonesia dan di dunia meletus pada 22 Nopember 1994. Letusan ini menyebabkan 64 orang tewas, 1 hilang dan 22 lainnya luka-luka. Mengapa harus ada banyak korban manusia?

“Sebetulnya gunungnya itu tidak menjadi masalah jika ada early warning system, ada informasi,” ujarnya saat ditemui di kantornya, Centre for Disaster Research, Education and Management (DREaM) di UPN yang didirikannya pada tahun 2001.

Sejak itulah, ET Paripurno dengan menunggang jip Toyota Land Cruiser lansiran tahun 1981 – yang dinamai Badak – mengunjungi masyarakat yang tinggal di desa-desa di lereng Gunung Merapi. Bersama-sama dengan masyarakat, ia menjadi fasilitator dan belajar bersama bagaimana cara mengurangi resiko bencana.

Sebagai ahli geologi, ia tahu persis bagaimana proses terjadinya bencana alam seperti gunung meletus, tanah longsor, banjir dan tsunami. Ilmu ini menjadi sumber inspirasi belajar bersama komunitas dalam soal pengurangan resiko bencana. Sebagai contoh, ia mengukur kecepatan awan panas yang keluar dari Gunung Merapi dan kecepatan masyarakat melakukan evakuasi.

“Ya, saya mengenal dia,” ujar Badiman, warga Dusun Ngrangkah, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta yang terletak di lereng Selatan Gunung Merapi. Menurut Badiman, ET Paripurno sering memberikan pelatihan bagi masyarakat cara menyelamatkan diri jika gunung ini meningkat aktivitasnya dan mulai membahayakan. “Pelatihan yang diberikannya sangat berguna bagi masyarakat,” tambah Badiman.

Sifatnya yang egaliter menjadikan dirinya mudah bergaul dan menyatu dengan masyarakat desa. “Saya menjalankan kegiatan ini tidak berbasis proyek. Tidak ada proyek, saya tetap menjalankannya,” ujar pria yang selalu mengenakan kaos warna hitam ini. Baginya (proyek) kegiatan di masyarakat dengan dukungan dana besar tidak selamanya bagus. Kegiatan di masyarakat dengan tingkat intervensi tinggi, salah satunya dana besar justru sulit untuk diduplikasi di wilayah lainnya.

ET Paripurno yang pada tahun 2000 terpilih menjadi penerima Ashoka Fellowship mengakui kegiatannya di masyarakat juga wujud dari pelaksanaan Tri Dhrama Perguruan Tinggi (pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat). Agaknya komitmen ini pula yang mendorongnya meneliti karakter lahar Gunung Merapi sebagai bahan tesis program doktornya di Universitas Padjajaran, Bandung. Thesis berjudul “Karakter Lahar Gunung Merapi sebagai respon Perbedaan Jenis Erupsi Sejak Holosen” ini berhasil diselesaikannya awal 2009 lalu.

Dalam pertanggungjawaban akademiknya, ia menulis perubahan jenis letusan akan berpengaruh terhadap karakteristik lahar yang keluar dari kawah. Penelitian ini, menurutnya juga berguna bagi mitigasi bencana lahar dan dapat digunakan untuk ‘memotret’ aktivitas gunung api lainnya di Indonesia.

Margareta Wahlstrom berharap penghargaan ini akan semakin mendorong ET Paripurno semakin meningkatkan aktivitasnya di bidang pengurangan resiko bencana. Dan ia memang tidak akan berhenti. Hadiah uang yang diterimanya akan ia simpan menjadi dana abadi. “Jadi siapa pun dapat menggunakannya jika mempunyai kegiatan di bidang pengurangan resiko bencana,” ujar ET Paripurno.

Hari sudah sore, tetapi ia belum beranjak meninggalkan kantor. Ia sedang menunggu dua orang dari Bengkulu yang datang untuk belajar soal pengurangan resiko bencana. Sebuah tanda jika ET Paripurno terus berjuang ….

Tulisan ini dimuat di The Jakarta Post, edisi 2September 2009

Oleh: Bambang Muryanto

Thursday, February 19, 2009

Hamzah rekindles the past

The Jakarta Post , Jakarta Mon, 07/25/2005 8:25 AM Life

Bambang Muryanto, Contributor, Yogyakarta

Late one Saturday afternoon, a horse-drawn carriage gracefully emerged from a mansion somewhere in Kotabaru, Yogyakarta.

Two ""high-ranking court servants"" in full Javanese costume sat in the front, driving the carriage. Another stood at the rear, holding a tall umbrella.

The carriage proceeded slowly down the road in Kota Baru. All the way, onlookers attentively followed its progress. But who were the three people in the carriage?

One of them, sitting right next to the coachman, had pronounced North Asian features. He was holding a kebud, an instrument made from the hair of a horse's tail, which is used to shake off dust.

While the carriage clanked along, he received a greeting from some people who knew him. Was he really a high-ranking court servant? No. He is, however, a well-known businessman in Yogyakarta, none other than Hamzah Hendro Sutiknow, who owns Mirota Batik, a famous outlet for batik cloth and a variety of traditional handicraft products.

Hamzah is known to be in close contact with traditional artists in Yogyakarta. He often participates in ketoprak, a type of traditional Javanese play. Recently, together with some of Yogyakarta's leading traditional artists, he starred in a ketoprak performance that was one of the highlights of the Yogyakarta Arts Festival.

In the play, he assumed the role of an emban, a female servant. ""I was given the role because it was the easiest one to play and also because I'm already old,"" said Hamzah, who is of Chinese descent.

Late every Saturday afternoon, if he has the time, Hamzah travels round the city in his horse-drawn carriage. He starts from his house and goes to the tourist strip along Jl. Malioboro and through the North Square before returning to Kota Baru.

That afternoon, he only went round Kota Baru. ""I can't go round the city because I have to shortly attend a fashion show in my shop,"" said Hamzah, 55. So, the procession around the city had to go ahead without him.

All along the way, the black-and-yellow horse-drawn carriage attracted the attention of passersby. Cantering along streets crowded with motorcycles and automobiles, the antique-looking carriage aroused plenty of curiosity.

Upon seeing the carriage, locals and tourists alike may be reminded of the fact that about a century ago, horse-drawn carriages were a common sight on the roads of Yogyakarta.

Hamzah began taking regular trips round the city in his carriage about a year ago. When he is busy, the carriage tours the city without him, a reminder to people, amid the ongoing progress of modern times, of what life in Java was like in bygone days.

At first, Hamzah used an andong, a two-wheeled carriage drawn by two horses that is still used as a means of transportation in Yogyakarta even today. However, as the andong failed to attract the attention of tourists, he decided to replace it with a horse-drawn carriage with a more attractive design.

So, now he uses a horse-drawn carriage that resembles the Kus Gading, one of the carriages owned by the Yogyakarta sultan. Made in 1901, the carriage is now on display in the Yogyakarta Sultanate Carriage Museum.

Hamzah spent some Rp 32 million on making a Kus-Gading look-alike. ""Although it resembles Kus Gading, the replica is smaller,"" said Paidi, its maker.

Although Hamzah likes taking trips around the city in his carriage, this does not mean that he is seeking popularity or trying to create a sensation. ""I do it simply because I'm very fond of Javanese culture,"" said Hamzah, who added that he liked gendhing (traditional Javanese songs). Besides, he believes that what he does will promote tourism as it provides an interesting sight in the streets.

That's why in the holiday season Hamzah planned to travel round the city in his carriage every day. Unfortunately, this plan has remained unfulfilled to date as he is too busy. Apart from being the director of Mirota Batik, he also owns a milk factory.

Hamzah allows some of his employees to travel round the city in his carriage during the holiday season but only he himself is permitted to don the traditional Javanese garb and sit next to the coachman. He is too busy for all this, though. ""I'm not happy seeing someone else wearing the Javanese costume,"" said Hamzah, an English literature graduate from the Sanata Dharma Institute of Higher Education.

Besides his penchant for Javanese culture, Hamzah is a horse lover at heart. He owns seven horses, one of which, Satria Kinayungan, is extraordinary in that it has two crowns of hair. It is believed that anybody who owns a horse like this will become a ""knight"" and command great respect.

Hamzah also has six more horse-drawn carriages in his collection. The oldest was made in 1928 and was specially designed for leisurely rides. This carriage is now kept in his shop as part of the decor.

Hamzah's love of horses and, subsequently, horse-drawn carriages began to develop when he was still a boy. Claiming that he also knows how to drive a carriage, he said that he learned this at a very young age. ""When I was a boy, I often rode in andong and would ask the coachmen to let me drive,"" reminisced Hamzah, who is also a fashion designer.

Of his five siblings, Hamzah is the only one with a great love of Javanese culture, a passion that he has inherited from his mother, Tini Yuniarti. He can still remember clearly how his mother listened with rapt attention to radio broadcasts of traditional Javanese shadow puppet shows.

She would also take him to see performances staged by Ngesti Pandowo and Kawedar, two traditional traveling troupes, when they visited Yogyakarta. When Hamzah was seven, his mother asked him to take Javanese dance lessons.

His deep passion ultimately molded him into a fully-rounded Javanese person who speaks very refined Javanese and always behaves in strict compliance with traditional Javanese mores.

Although he owns a replica of the Kus Gading carriage, he never rides in it as an owner normally would, sitting in the cabin. ""Only members of the sultan's family deserve a seat there,"" he said.

Now that he has started making regular trips around the city in his carriage, Hamzah has another dream. He wants to show the people of Yogyakarta the real function of the sedan chair that he owns.

In the past, noblemen from the palace went about in sedan chairs, carried on the shoulders of a number of bearers.

""To make this dream come true, I will need at least 20 people,"" he said. Why? Well, he doesn't just want to show off his sedan chair, but wants to stage a full-scale traditional procession with music provided by a group of gamelan players.

He plans to do this every year during the Muslim post-fasting lebaran holiday.

If his dream becomes a reality, Yogyakarta might well become more attractive to tourists.

In memoriam: Collector who inspired many Yogya artists

The Jakarta Post, Features - June 12, 2006

Bambang Muryanto, Contributor, Yogyakarta

One of the victims of the 5.9-magnitude earthquake that rocked Yogyakarta on May 27 was Dutch painting collector Boudewijn Brands, affectionately known as "Pak Ombo" and familiar to local painters and artists.

At that time, Pak Ombo, 55, was in his village home in Bulus Wetan, Sumberagung, Jetis, Bantul, Yogyakarta's hardest-hit regency, where most dwellings were badly damaged.

When the quake struck, he was unable to flee because one of his legs had not fully recovered from earlier surgery. Pak Ombo chose, rather, to hide himself under his bed, but the intense tremors precipitated the collapse of his old, pyramid-shaped house, burying his protective bed.

"Pak Ombo still had time to shout for help," said Zulkarnain, Brands' private assistant also living in the same house. As the quake subsided, Zulkarnain and his younger brother took Pak Ombo out of the rubble and rushed him to Dr Sardjito general hospital, Yogyakarta.

Banu Hirmawan, spokesman for the hospital, said Pak Ombo was dead on arrival, despite having apparently sustained an injury only to his legs. "He may have had serious internal injuries when heavy walls caved in on him," added Zulkarnain.

Brands' remains were taken from the hospital on May 30 and flown to Holland the next day.

An economist and member of the Networking in Development Cooperation Association (NEDWORC), Brands was an aficionado of the visual arts, particularly contemporary painting, about which he was very knowledgeable.

Articles written by him on the subject often appeared in The Jakarta Post.

The Dutch citizen spent most of his time in Yogyakarta from 1995 onward. "Many Yogyakarta artists knew him as he was very keen to help young painters by buying their work," said Kuss Indarto, an independent curator.

Among these were Bob Yudhita Agung, Suraji, Ugo Untoro, Teddy S, Susanto and Kadafi Dhowo. "When paying he would tell young artists not to spend the money on cigarettes and liquor," said Kadafi, as reported in the Post on April 2003.

His collection currently comprises thousands of paintings, especially paper drawings, besides thousands of books on art.

Pak Ombo also actively organized displays of the work of young Indonesian artists both at home and abroad. When he lived in Ambarketawang, his house also served as what he called an alternative gallery.

Until the time of his death on May 27, Pak Ombo had been documenting contemporary Indonesian art. He had not yet fulfilled his wish to set up a gallery in Yogyakarta. "I hope I can realize Pak Ombo's dreams," concluded Zulkarnain, also a painting collector.

Purser and His Love for Indonesia

The Jakarta Post Feature
Wednesday, Nov. 2, 2005

Bambang M, Contributor, Yogyakarta

The fact that Australian Warwick Purser loves Indonesia is not in doubt.

To help Indonesia recover its reputation, which has, in a way, been tarnished
by bombings in Jakarta and Bali, Purser, who has successfully introduced Indonesian handicrafts to the international market, launched a book titled Made in Indonesia: A Tribute to the Country's Craftspeople on Sept. 28, an occasion that was also intended to mark his 61st birthday.

"The book can serve as Indonesia's envoy. In spite of a number of unfavorable occurrences in Indonesia, the country still has a lot of good things to offer," said Purser, when he was met in his house in Tembi village, Bantul, Yogyakarta.

In the book, illustrated with pictures taken by photographer Rio Helmi, Purser talks about Indonesian handicrafts and the sales that could be achieved with serious promotion.

The country's artisans are very skilled with their hands and produce a variety of articles from the raw materials available to them. Often it is only innovation that is lacking.

Combined with resin, leather, glass or iron, traditional handicrafts can take
on a contemporary feel. Purser's team of designers, for instance, combined teak leaves with resin to make fruit bowls for export to Italy.

His first trip to Bali was in 1968 was with his wife Lisa on their honeymoon. Following this first visit, he decided to settle in Bali, where he set up Pacto Tour.

For a time he left Bali, residing in Thailand but then, in 1993, Purser -- whom the UN Development Program once hired as a tourism consultant – returned to Bali for good. In 1996 he set up handicrafts export company Bali PT Out of Asia.

However, as he wanted to live in a peaceful environment where artisans were not hard to come by, Purser moved to Tembi in 1998. In this village, he rented traditional Javanese houses, which he renovated for use as both his home and office.

When Purser came to settle in Tembi, it was quite a deserted place as most of its residents worked in towns. Since then it has become quite a busy village.

"Today, about 90 percent of some 400 families in Tembi are involved in the handicraft business," said Rismilliana Wijayanto, a PT Out of Asia employee.

Tembi is now a tourist village and a model of a successful rural community development program. In view of the success of the village, the government has asked Purser to help develop the rural economy in 20 villages across Indonesia, including some in Aceh and Pacitan, East Java.

Along with the progress in Tembi, Purser's business is also growing by leaps and bounds, thanks to his hard work and knowledge of international market trends. Purser, who is also a talented designer, has introduced a variety of handicrafts from Indonesia such as candle holders, furniture, placemats and lampshades to the international market.

His business turnover stands at some US$5 million a year. His business involves about 10,000 craftsmen from Tasikmalaya, West Java province, to Lombok island, West Nusa Tenggara.

It is really something to learn that the handicrafts, which Purser prefers to call art works and are fully made in Indonesia, can be found in world-famous shops such as Harrod's, Habitat, the Conran Shop, The Body Shop and Marks and Spencer.

Although all these art works are produced by PT Out of Asia, none of them carries the label of Warwick Purser. Instead they are labeled "Made in Indonesia". Indeed, Purser hopes that this label will encourage his buyers to find out more about Indonesia or even visit the country.

After successfully exporting handicrafts, Purser has now turned his attention to marketing them at home.

He said Indonesians were easily impressed by products made overseas but by buying locally made products, more jobs would be created.

Purser's undertaking to market Indonesian handicrafts here was not immediately rewarded. People in the upper-income bracket have been the most loyal customers. His Warwick Purser Lifestyle outlets can now be found in several shopping malls in Jakarta and Bali.

Among those who like Purser's designs are Coordinating Minister for the Economy Aburizal Bakrie and his wife, who have reportedly asked Purser to furnish their official residence.

Purser has a strong belief in the importance of quality craftsmanship. That is why he published his book. "I believe the book will showcase to the Indonesian people quality handicrafts that are made by Indonesians," said Purser, now one of Southeast Asia's largest exporters.

Despite his success, Purser, who jogs around rice fields in Tembi every morning, is a modest man. Rather than taking the credit for creating jobs for villagers, he expresses his gratitude for the creativity they have inspired in him.

His book is dedicated to Indonesian artisans for the fine works they have produced. Besides which, Purser, who is now undergoing a process of naturalization to become an Indonesian citizen, is also dedicating this book to "the fascinating culture of the country I am pleased and proud to call my home -- Indonesia."

Butet Manurung, champion of literacy


The Jakarta Post , Jakarta Thu, 11/20/2003 10:32 AM Life
Bambang M., Contributor, Yogyakarta

When Saur Marlina Manurung, better known as Butet Manurung, appeared on a TV commercial for Kompas, the largest newspaper in Indonesia, many people responded with sympathy.

A native of metropolitan capital of Jakarta, Butet Manurung graduated with a degree in anthropology and Indonesian literature from Padjajaran University, Bandung. Leaving the hustle and bustle of modern life behind, she went deep into the jungles of Jambi with a mission to teach two remote tribes -- the Anak Dalam of Bukit Duabelas and the Orang Rimba of Bukit Tigapuluh National Park.

She teaches them the fundamental skills of all education -- how to read, write and count.

With her degree, she could have had a well-paid, prestigious job in Jakarta instead, but this is simply not an option for her.

After the Kompas commercial was aired by several major television stations, many people have come up to her just to express their sympathy for her work. In Yogyakarta recently, students surrounded her and even asked for her autograph.

""Well, they treated me like I was a superstar,"" said the 2001 recipient of the Man and Biosphere Award from the Indonesian Institute of Sciences (LIPI) and UNESCO, the United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization.

Certainly, her job is noble and demanding. She lives alone in the jungle and walks long distances every day to teach the various sub-groups of the isolated tribes. It is not easy to travel on foot in a 60,500 hectare tropical forest.

When she finally finds one group, she is not sure that she will be accepted. If a group rejects her, she goes and finds another group, which may mean another long journey. If a group welcomes her, she encounters another set of difficulties: how to persuade them to learn to read, write and count? And what is the most suitable teaching method?

""These people regard reading and writing as something akin to black magic, and to master black magic, they must make an offering,"" she said.

Of course, deep in the jungle, she must also face other challenges, such as illegal loggers, malaria and basic survival.

However, she was an active member of an nature lovers' organization and learned well enough how to survive alone in a jungle.

Butet is probably one of the few people who have been fortunate in that she has achieved her childhood dream -- when she was young, she wanted to be Indiana Jones.

""I like my job -- it's both my vocation and my hobby.""

Butet was born on Feb. 21, 1972, the eldest of four siblings and the daughter of the late Victor Manurung and Anar Tiur Samosir.

She began teaching the Anak Dalam in 1999, when she joined WARSI, a non-governmental organization dedicated to developing the life of the Anak Dalam people. She was given a job in the organization's educational program.

Before Butet, three others had tried to teach the Anak Dalam. Two managed for about a year, but were hampered in their task by the many obstacles and challenges they had to face. The third was successful in approaching and being accepted by the Anak Dalam, but sadly, he contracted malaria and died.

When Butet first began this Herculean job, it took her about seven months before she could approach the Anak Dalam people.

One day, Anak Dalam children happened to hear Butet recite some of their verses from memory and were surprised that an outsider could quickly learn their traditional verses by heart.

""I recorded the verses and then transcribed them,"" she told the curious children, who were now starting to show an interest in reading and writing.

The children told her that their tribe had thousands of ancestral verses, but after several generations, many of these verses had been lost as they had not been written down.

This small interlude opened up a way for her to approach the Anak Dalam people, and Butet made use of the oral tradition prevailing among the tribe to persuade them to learn how to read and write.

In addition, Butet used the Anak Dalam's ""one good turn for another"" creed to foster a spirit of exchange -- she told them that she came to learn how to live in a forest.

""In return for what I learn from you, I will teach you how to read and write,"" she said.

On Oct. 1, 2003, Butet resigned from WARSI. ""WARSI is concerned about the environment, while I'm only concerned about education. My activities will also help WARSI's programs later on.""

She believes that the Anak Dalam could learn better with teachers from their own tribe. Today, 12 Anak Dalam people have been trained as teachers and about 120 people -- children and men -- are literate.

Butet says the Anak Dalam people urgently need to learn how to read, write and count, as their contact with the outside world is unavoidable.

Anak Dalam people have often been cheated when dealing with outsiders, she said. Apparently, one such outsider once came to them with a piece of paper, claiming it was a letter of appreciation from the local subdistrict head, and asked them to sign it. They did, and were promptly evicted from their land. The ""letter"" was actually a land deed, and they had unwittingly ""sold"" their land.

Now that they know how to read, write and count, they cannot be cheated so easily any more.

There are many other remote tribes like the Anak Dalam across Indonesia, and Butet says she wants to teach them all how to read, write and count.

""They can never fight for their well-being unless they have some education,"" she said.

Saturday, January 26, 2008

Soenaryo, “Empu” Glass Blower


Oleh: Bambang MBK

“Sengsara membawa nikmat”, begitulah ungkapan tepat untuk menggambarkan perjalanan hidup Soenaryo Bernastowo. Tahun 1957, seorang calo tenaga kerja menjualnya kepada pemilik pabrik pembuat peralatan laboratorium dari gelas di Singapura. Selama dua tahun ia dipaksa bekerja tanpa upah sepeser pun. Namun dari pengalaman pahit itu, Soenaryo (67) mempunyai keahlian yang jarang dimiliki orang Indonesia, yaitu ahli reparasi dan membuat peralatan laboratorium terbuat dari gelas (glass blower) dengan kualitas tidak kalah dari buatan luar negeri.

Banyak mahasiswa dari dan luar Yogyakarta datang ke bengkelnya di Condongcatur, Sleman, Yogyakarta untuk memperbaiki peralatan laboratoriumnya yang retak. Selain itu ia juga membuat alat baru yang dipesan khusus oleh mahasiswa dan lembaga perguruan tinggi dari berbagai daerah di Indonesia.

“Saya sering membuat peralatan khusus untuk para mahasiswa S1 hingga S3 yang sedang penelitian,” ujarnya. Sebabnya, peralatan ini tidak dapat ditemukan di pasaran. Tidak jarang ia juga membantu para mahasiswa menjelaskan sistem kerja peralatan itu. “Jadi saya juga seperti asisten dosen,” ujar ayah tiga anak itu.

Soenaryo berbangga hati karena tidak banyak orang Indonesia mempunyai ketrampilan seperti dirinya. Namun ia masih sedih bila ingat pengalamannya di Singapura. Bayangkan, selama dua tahun ia hanya makan nasi dengan sayur sop dan lauk ikan asin.

Untung, ia berhasil melarikan diri. Dengan menyelundup sebagai penumpang gelap pada sebuah kapal barang, akhirnya ia sampai di Surabaya dan pulang ke Yogyakarta.

Tidak lama kemudian Soenaryo bekerja di Fakultas Teknik UGM. Ia membantu Ir. Sugihardi, dosen di fakultas itu yang sedang merancang laboratorium teknologi minyak bumi dan operasi teknik kimia. Kebetulan, ia bertugas mengetik pesanan daftar peralatan laboratorium yang akan didatangkan dari AS, Inggris dan Belanda.

“Melihat daftar pesanan itu, saya katakan kepada Ir Sugihardi, jika saya dapat membuat peralatan itu sendiri,” ujar Soenaryo. Sugihardi kaget, tetapi ia mau menyediakan kebutuhan Soenaryo untuk membuat berbagai peralatan laboratorium yang akan diimpor itu.

Ketrampilan Soenaryo ini menarik perhatian civitas akademika UGM. Saat peringatan dies natalis UGM ke 13, ia diminta mendemonstrasikan ketrampilannya itu. Waktu itu, Rektor UGM Prof. Dr. Sardjito terkesan dan menawarkan Soenaryo menempuh pendidikan lebih lanjut pada Kursus Instrumen dan Pergelasan di Bandung yang dikelola Institut Teknologi Bandung.

Masuk tahun 1960, selain praktek, Soenaryo juga mendapat pelajaran tentang seluk-beluk peralatan laboratorium. Pengalaman kerjanya di Singapura membuat dirinya cukup menempuh masa studi hanya satu tahun dari yang seharusnya 3 tahun. “Bahkan saya menjadi asisten,” ujarnya bangga.

Soenaryo dan enam temannya adalah angkatan terakhir program kursus itu, sebelum berubah menjadi Sekolah Ahli Instrumen Gelas. Dari 7 siswa itu, hanya 4 yang terjun ke dalam dunia pergelasan. Sekarang tersisa dua orang, Soenaryo dan seorang temannya di Bandung yang tidak aktif lagi karena sakit.

Berbekal pendidikan bagus dan pengalaman panjang, tidak mengherankan jika kualitas peralatan laboratorium yang dihasilkannya bagus. Bahkan tidak kalah dengan buatan luar negeri. Dengan bahan baku pipa gelas, ia memproduksi peralatan seperti extractor, gelas Elemeyer dan masih banyak lainnya.

Beberapa perusahaan seperti pabrik jamu Air Mancur di Surakarta dan pabrik lampu, General Electric (GE) Lighting di Sleman, Yogyakarta juga memesan peralatan dari Soenaryo. Kini setiap bulan, Soenaryo membuat glass vaccum (alat untuk mengosongkan udara pada bola lampu) sebanyak 500 biji untuk pabrik lampu itu. Semula GE Lighting harus mengimpor alat ini dari Hongkong seharga 8 US dollar per buah. Tetapi glass vaccum buatan Soenaryo cukup Rp 15.000.

“Glass vaccum buatan Soenaryo kualitasnya bagus,” tandas Ferry Pratama dari Bagian Pengadaan Barang, GE Lighting. Ia mengatakan pihaknya sengaja mencari glass vaccum yang hand made sebab peralatan serupa buatan pabrik justru berkualitas rendah.

Meski telah sukses, Soenaryo masih prihatin sebab belum banyak muncul ahli glass blower muda yang terampil. Itulah sebabnya, meskipun sibuk, Soenaryo tetap membuka kesempatan bagi siapa pun yang ingin belajar kepadanya. Banyak perusahaan dan lembaga pendidikan mengirimkan orang-orangnya agar belajar kepadanya.“Belajar di sini gratis, cukup membayar ongkos bahan baku untuk praktek saja,” ujarnya.

Logika kapitalisme pendidikan, bahwa menuntut ilmu harus membayar ongkos yang mahal, seperti terjadi Indonesia saat ini tidak berlaku bagi Soenaryo. Itulah jalan pikiran seorang ‘empu’ yang selalu ingin menularkan ketrampilannya kepada orang lain dan bukannya mengeksploiasi untuk keuntungan pribadi.

Slamet Rahardjo, Maestro Pembuat Blangkon


Oleh: Bambang MBK

Adakah hubungan antara blangkon, tutup kepala yang digunakan seorang pria saat berpakaian jawa lengkap dengan kewibawaan Kraton Yogyakarta ? Jika pertanyaan ini diajukan kepada Slamet Raharjo, seorang maestro pembuat blangkon dari Yogyakarta, jawabannya pasti ada. “Nama kraton bisa rusak jika raja dan para bangsawan itu memakai blangkon yang dijual di pasar,” ujar pria berusia 61 tahun itu.

Blangkon karya Slamet bukanlah blangkon ‘murahan’ yang dapat dibeli di Pasar Beringhardjo di pusat kota Yogyakarta. Ia hanya membuat tutup kepala berbahan batik dan berbentuk khas itu berdasarkan pesanan. Hasilnya, blangkon serius: indah karena terbuat dari batik berkualitas, memiliki presisi tinggi sesuai dengan bentuk dan ukuran si pemakai serta nyaman dikenakan. Sang pemakai pun tampak berwibawa dan tampan jika memakai blangkon karya Slamet.

Dengan produk berkualitas tinggi dan berharga ratusan ribu itu, para pemakai blangkon karya Slamet tentulah bukan orang sembarangan. Kerabat Kraton Yogyakarta, termasuk Sri Sultan Hamengkubuwono X adalah salah satu pelanggannya. “Biasanya yang datang membawa pesanan adalah Gusti Herjun,” ujar Slamet saat ditemui di rumahnya di kawasan Bugisan, Yogyakarta.

Siang itu ia tengah duduk santai di ruang tamu rumahnya sambil mengawasi seorang pegawainya yang sibuk membuat blangkon. Ruang tamunya yang tidak begitu besar sekaligus menjadi tempat workshop-nya. “Itu pesanan dari Bandung,” tambah ayah empat anak itu.

Presiden Susilo Bambang Yudoyono juga pernah memesan blangkon darinya yang digunakan untuk mantu (upacara pernikahan) anaknya beberapa waktu lalu. Menurut Slamet, Pak SBY memesan 60 blangkon gaya Yogyakarta. “Ukuran kepala Pak SBY, 59. Motif batiknya adalah klithik kemitir jumputan merah,” ujar suami dari Tugiyem itu. Selain itu, mantan Menteri Pendidikan Fuad Hasan, mantan Gubernur Jakarta, Ali Sadikin dan mantan Presiden Abdurrahman Wahid juga pernah memesan blangkon darinya.

Beberapa gerai batik terkemuka di Yogyakarta juga sering memesan blangkon dari Slamet. “Kalau ada tamu yang menginginkan blangkon bagus, kami sering memesan kepada Pak Slamet, dia adalah yang terbaik,” ujar Heru Purwanto, pegawai bagian kerajinan dari gerai Mirota Batik.

Keberhasilan Slamet menjadi seorang maestro pembuat blangkon memerlukan waktu tidak sebentar dan perjuangan panjang. Ketrampilan yang dimilikinya adalah warisan dari almarhum ayahnya, Notodihardjo yang juga seorang pembuat blangkon. Ayahnya sendiri belajar membuat blangkon dari sahabatnya, Karto Thole, seorang pembuat blangkon yang biasa melayani pesanan dari kerabat Kraton Yogyakarta.

Karena Karto Thole yang juga abdi dalem Kraton Yogyakarta itu sering kebanjiran pesanan, ia minta Notodihardjo untuk membantunya. Ketika Karto Thole meninggal, Notodiharjo pun menjadi ‘pewaris tahta’ yang meneruskan usaha Karto Thole membuat karya blangkon yang serius.

Setiap hari melihat ayahnya membuat blangkon, timbulah rasa keinginan Slamet muda untuk belajar. Waktu itu umurnya baru 27 tahun. Slamet pun mencoba membuat blangkon yang hasilnya selalu diperlihatkan kepada ayahnya untuk dinilai. “Ketika masih belajar, hasilnya saya jual ke pasar,” kenang Slamet yang hanya lulus SD itu. Seiring dengan perjalanan waktu, ketrampilan Slamet pun kian matang.

Slamet mengatakan membuat blangkon sebetulnya tidak sulit. Yang penting adalah tekun, teliti, cerdas dan kuat duduk selama beberapa jam. Ya, sejak dari awal hingga akhir, pembuat blangkon harus duduk. Di depannya ada sebuah alat yang terbuat dari kayu untuk meletakan blangkon, namanya klebut.

Setelah dilipat-lipat dengan pola khusus (dalam bahasa Jawa disebut diwiru), kain batik berukura 115 x 115 cm itu ditempelkan dengan menggunakan lem kanji ke pola dasar blangkon yang terbuat dari kertas karton tebal. Bagian ini akan membentuk hiasan pada keseluruhan tubuh blangkon pada bagian luar.

Selanjutnya hiasan bagian luar ditempelkan dengan cara dijahit ke kerangka blangkon, terbuat dari anyaman daun pandan yang dikeringkan, namanya congkeng. Besar congkeng ini tergantung pada ukuran kepala sang pemesan. “Menjahit adalah bagian yang paling sulit,” ujar Ratijo, satu-satunya pegawai yang bekerja pada Slamet sekarang.

Menjahit blangkon memang memerlukan keahlian khusus. Agar tetap indah, jahitan harus rapi dan tidak terlihat. Ini tidak mudah. Salah satu ujung jari harus ditutup logam keras untuk mendorong jarum jahit agar menembus congkeng dan karton keras yang menjadi pola dasar blangkon.

Dari pekerjaan yang telah ditekuninya selama 34 tahun itu, Slamet dapat menghidupi keluarganya. Ia dapat menyekolahkan anaknya, tiga diantaranya ke perguruan tinggi. Rumahnya yang semula hanya berdinding anyaman bambu kini sudah bagus. “Tahun 1999 lalu, uang dari pesanan Gus Dur, saya gunakan untuk membuat atap dan lantai rumah,” ujar Slamet. Menurut Slamet, waktu itu Gus Dur memesan 115 blangkon gaya Surakarta.

Dengan kesetiaannya itu, Slamet secara tidak langsung juga ikut serta menjaga kebesaran kebudayaan Jawa. Apa jadinya, jika dalam suatu upacara sakral kebudayaan Jawa, para lelakinya menggunakan blangkon yang tidak berkualitas ? Atau pantaskah para pembesar Kraton Yogyakarta menggunakan blangkon yang tidak berkualitas ?

Perhatiannya yang besar terhadap kebesaran kebudayaan Jawa itu pula yang mendorong Slamet bersikap arif, yaitu mau memberikan ilmunya kepada siapa pun yang ingin belajar membuat blangkon dengan serius. “Kalau ilmu ini tidak saya amalkan kepada orang lain, percuma. Besok bagaimana jadinya jika tidak ada blangkon bagus. Nama kraton bisa rusak jika para bangsawannya menggunakan blangkon yang dijual di pasar,” ulang Slamet.

Slamet sudah mencetak beberapa pembuat blangkon yang hasilnya dapat diandalkan. Tetapi Rujito, seorang pegawai yang masih setia menemaninya adalah sang ‘putra mahkota’. “Dia sudah lengkap menerima ilmu dari saya,” ujar Slamet.

Itulah Slamet Rahardjo. Dia adalah seorang pejuang kebudayaan Jawa yang semangat dan kearifannya patut dihargai.

Sinar Nurani Kartika Affandi


Oleh: Bambang MBK

Entah sudah berapa kali, Kartika Affandi duduk di pojok barat daya Alun-alun Utara untuk melukis panorama ruang terbuka yang terletak tepat di depan Keraton Yogyakarta itu. Untuk mendapatkan sudut pandang yang artistik, pelukis perempuan terkemuka di Indonesia itu rela duduk dan melukis di lokasi yang biasa untuk parkir kereta kuda (andong). Walau di bawah pohon beringin yang rindang, tempat itu bukanlah tempat yang nyaman karena ceceran kotoran kuda yang tersiram air hujan meruapkan bau sangat tidak sedap.

“Tadi ada orang yang mengatakan di tempat ini banyak kotoran kudanya, tetapi ya biarlah,” ujar putri maestro pelukis Affandi itu. Tanpa terusik, ia terus melukis, sesekali minum teh dan makan makanan kecil.

Minggu pagi (18 Desember 2005) itu Kartika bersama puluhan seniman Yogyakarta lainnya sedang melakukan aksi publik bertajuk “Menyelamatkan Alun-alun dengan Cinta”. Hanya saja ia memisahkan diri dan memilih melukis di tempat yang berbau tidak sedap itu. Aksi ini merupakan respon para seniman terhadap pemerintah kota Yogyakarta dan Sri Sultan Hamengku Buwono X yang berencana membangun lahan parkir di bawah Alun-alun Utara. Mereka menilai pembangunan ini dapat merusak Alun-alun utara sebagai salah satu cagar budaya.

Walaupun sudah berusia 71, ibu dari delapan anak itu masih bersemangat melukis di luar studio. Padahal beberapa waktu lalu ia sempat tidak sadarkan diri akibat kelelahan melukis.

Seperti biasa, Kartika tidak menggunakan kuas. Ia menggunakan tube cat dan jarinya untuk menorehkan cat akrilik ke atas kanvas. Setelah beberapa jam berlalu, di atas kanvas berukuran 30 X 40 cm, tampak lukisan beraliran eksresionisme yang memvisualkan panorama Alun-alun utara dengan sebuah tenda raksasa tepat ditengahnya. Tenda raksasa itu adalah tempat pertunjukan sirkus keliling yang tengah mengadakan show di Yogyakarta.

Sembari melukis, Kartika secara diplomatis mengatakan kehadirannya pagi itu tidak dalam rangka ‘menyayangkan’ rencana raja dan gubernur Yogyakarta itu. Kartika mengaku ia bersama ayahnya sudah melukis Alun-alun Utara sejak 1944. Namun saat ditanya bagaimana jika rencana pembangunan parkir bawah tanah betul-betul terealisasi, nuraninya terusik juga. “Bagaimana dengan nasib pohon-pohon beringin besar yang ada di sekitar ini ?” tanya Kartika yang juga seorang pecinta lingkungan itu.

Memang, di sekeliling Alun-alun utara ada sekitar 60 pohon beringin yang berusia puluhan hingga ratusan tahun. Dua diantaranya tumbuh tepat di tengah Alun-alun utara. Kedua pohon beringin ini bernama ringin kurung yang merupakan simbolisasi dari manunggaling kawulo lan gusti atau bersatunya rakyat dan penguasa (raja). Jika lahan parkir bawah tanah itu benar dibangun, kehidupan pohon-pohon beringin itu mungkin terancam sebab akarnya sudah jauh menghujam ke dalam tanah serta merambat kemana-mana.

“Yang pasti, saya tidak bisa membayangkan keraton tanpa alun-alun,” tandas Kartika yang pernah mendapat penghargaan “Gold Medal” dari Academica Italia itu. Mungkin saja Kartika gundah karena ia tahu di Jawa, sebuah keraton pasti menyatu dengan alun-alun. Sebagai seniman Kartika mungkin pula takut kehilangan sebuah tempat publik yang selama ini menjadi sumber inspirasi yang tidak pernah kering. Ia sudah tidak ingat berapa lukisan tentang Alun-alun utara yang pernah dibuatnya.

Kesibukannya melukis terhenti sejenak ketika Dian Anggraini yang juga seorang pelukis bersama suaminya datang menghampirinya. Percakapan akrab pun mengalir, mulai dari soal kesehatan badan yang lebih penting dari apa pun, perjalanannya ke Bali hingga isu pornografi.

Selama melukis, Kartika yang mengenakan topi dan sepatu berhiaskan bunga-bunga plastik warna-warni itu juga berinteraksi dengan masyarakat di sekitarnya. Ia sama sekali tidak terganggu dengan orang-orang yang mendekat untuk melihatnya melukis atau bahkan mengobrol. Seorang ibu yang tidak terlalu tua, ikut menemani Kartika melukis. Ia bernama Sri Lestari datang dari Temanggung (Jawa Tengah) dan tinggal di sekitar Alun-alun utara. Kepada Kartika, ibu yang tak jelas pekerjaannya itu mengatakan ia mempunyai seorang anak laki-laki yang masih menganggur.

Kembali nurani Kartika terusik. Kartika pun menawarkan pekerjaan sebagai tukang kebun kepada anak lelaki dari wanita itu. “Suruh datang ke rumah saya di Pakem, Sleman, nanti ongkosnya saya ganti,” ujar Kartika. Saat akan pergi pun, Kartika memberikan selembar uang Rp 50 ribu kepada Sri Lestari.

Seperti ayahnya, Kartika memang suka melukis di luar studio. Usia tidak menjadi penghalang untuk terus menjalankan ‘tradisinya’ dalam menghasilkan sebuah karya lukisan. Walaupun jika hujan atau panas harus memaksanya berhenti, melukis di luar studio mendatangkan kebahagian tersendiri baginya. Dengan cara ini Kartika dapat berkomunikasi dan memahami realitas sosial yang terjadi di masyarakat sekitar.

Kepekaan nurani dan rasa kesenimannya pula yang mendorong Kartika membeli karya seni seorang perempuan dari suatu desa di Bali yang oleh masyarakat di sekitarnya dianggap gila. Kartika bercerita setiap mandi di sungai, perempuan itu selalu mengambil bebatuan dari sungai dan kemudian disusunnya di dalam gua. Kemudian ia melukiskan wajah orang-orang pada bebatuan itu. Kartika membeli semua karya ini seharga Rp 20 juta. “Saya ingin menyimpannya di museum seni rupa khusus perempuan yang sedang saya bangun,” ujar Kartika yang juga berupaya menolong kehidupan perempuan seniman dari Bali itu.

Sayang, hujan keburu mengguyur Yogyakarta. Kartika pun harus menyelesaikan lukisannya di rumah. Mungkin ini akan menjadi karya terakhirnya tentang Alun-alun utara sebelum berubah karena adanya proyek parkir bawah tanah. Atau kalau masih ada, ia tidak akan bisa menggambar pohon-pohon beringin yang besar sebab mungkin sudah mati. Kartika pulang dengan sejumput pertanyaan: ia belum mengerti apa sebetulnya rencana ke depan Sri Sultan Hamengkubuwono X dengan membangun parkir bawah tanah di Alun-alun Utara.

Sang ayah, Affandi memberinya nama Kartika yang berarti bintang yang bersinar. Maestro seni lukis Indonesia itu ternyata tidak salah . Di usia senjanya Kartika masih terus ‘bersinar’ dengan menghasilkan karya seni baik lukis dan patung. Tetapi lebih dari itu nuraninya juga terus ‘bersinar’ untuk memberikan pertolongan kepada sesama manusia.

Okor, Dari Penebang Liar Menjadi Penyelamat Hutan Leuser


Oleh: Bambang MBK

Ini adalah kisah seorang bekas pelaku penebangan liar yang tinggal di pinggir hutan kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). “Jika ingat masa lalu, saya merasa berdosa. Setiap satu pohon besar tumbang menyebabkan ratusan mahluk penghuni hutan lainnya mati konyol. Padahal mereka itu juga makluk ciptaan Tuhan,” ujar Okor Sembiring (50 tahun). Setelah menyadari kesalahannya itu, ia berubah 180 derajad. Kini ia adalah pelaku konservasi dan ekowisata di kawasan itu.

Di lingkungan keluarganya, menebang pohon di hutan adalah pekerjaan yang dilakukan secara turun-temurun. Para leluhurnya dan kebanyakan penduduk di desanya juga menebang pohon di hutan yang hasilnya dijual untuk menghidupi keluarga. “Penghasilan saya dari menjual kayu sekitar Rp 50 ribu per hari,” ujar ayah dari tiga anak itu. Waktu itu, penghasilan ini cukup tinggi.

Wilayah operasi Okor adalah kawasan TNGL yang terletak di sekitar tempat tinggalnya, Desa Namo Sialang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Namun nasib ‘sial’ menimpa dirinya. Pada tahun 1986, Okor dicokok aparat keamanan atas laporan temannya sesama pelaku illegal logging yang tertangkap lebih dahulu. Okor yang terbukti bersalah, harus mendekam selama 2 tahun di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Binjai.

Selama dipenjara, kekayaan yang dengan mudah dikumpulkan dari penjualan kayu habis untuk menutup biaya hidup keluarganya. Bahkan keluarganya pun harus membayar kepada petugas LP jika ingin sekedar berjumpa dirinya. “Jadi saya seperti bintang film. Siapa yang ingin ketemu saya, harus membayar dulu,” kenang pria berkulit hitam legam itu saat ditemui di Tangkahan, Desa Namo Sialang.

Untunglah, hidup di penjara membawa berkah bagi dirinya. Di sana Okor mendapat ‘pencerahan’ bahwa menebang pohon di kawasan TNGL yang menjadi cagar biosfer dan Tropical Rain Forest Herritage of Sumatra adalah suatu tindakan yang salah. Hutan yang gundul adalah sumber segala bencana bagi masyarakat sekitarnya.

Keluar dari penjara, jalan hidup Okor pun berubah. Tanpa ada yang menyuruh ia mengajak kepada penduduk di desanya untuk berhenti menebang pohon di hutan. Untuk menopang kehidupan keluarganya, Okor sendiri menggantungkan pada hasil panen tanaman di ladangnya.

Kepada penduduk di desanya, Okor mengatakan sudah saatnya berhenti menebang pohon di hutan. “Saya katakan kepada mereka, hutan gundul akan menyebabkan banjir. Jika itu terjadi masyarakat pula yang menjadi korban,” ungkap Okor.

Apa yang dikatakannya memang benar sebab wilayah TNGL memiliki curah hujan tinggi. Di musim hujan, hujan dapat turun sepanjang hari tanpa berhenti. Tanpa ada pepohonan sebagai pelindung, banjir dan tanah longsor dipastikan akan terjadi.

Perjuangannya itu tentu amat berat. Bagi masyarakat di pinggir hutan, pohon-pohon besar di hutan ibarat ‘harta karun’ yang tinggal diambil. Ini adalah jalan pintas untuk mengatasi kemiskinan mereka.

Karena mempunyai pandangan yang berbeda, banyak orang mencibir dirinya. Ia bahkan sempat mendapat ‘sanksi sosial’. Jika datang ke warung kopi untuk bercengkrama dengan sesama penduduk, tidak seorang pun mau menawarinya minum kopi. Tetapi itu semua tidak menyurutkan langkah Okor.

Selain berladang, sejak tahun 1989, Okor juga mempunyai ide merintis ekowisata yang berpusat di Tangkahan. “Saya hanya berpikir jika ada wisata, pasti akan banyak orang datang,” ujarnya singkat.

Bersama beberapa penduduk di desanya yang telah ‘tercerahkan’, Okor mendirikan Lembaga Pariwisata Tangkahan (LPT). Ia sendiri duduk sebagai ketua harian. LPT memfasilitasi para turis yang ingin menikmati indahnya hutan tropis dan keragaman hayati di kawasan TNGL. Di sini terdapat sekitar 3500 spesies tumbuhan ratusan burung, 300 burung, 130 mamalia dan 100 reptil.

Berkat bantuan dari banyak pihak, penduduk Namo Sialang berhenti menebang pohon di hutan. Bahkan penduduk desa tetangga, Desa Sei Serdang yang juga melakukan illegal logging mau mengikuti. Mereka melihat keuntungan ekonomis yang didapat dari ekowisata lebih berkelanjutan dari pada menebang pohon.Banyak penduduk mendapat keuntungan dari membuka warung, menyedikan makanan atau menjadi guide.

Wilayah Tangkahan yang semula gundul kini hijau kembali. Pohon-pohon besar bediri tegak, tajuknya tertutup rapat tumbuhan liana. Binatang-binatang liar seperti beruang madu, monyet dan kijang pun mau mendekat lagi sehingga jika beruntung para turis yang datang ke Tangkahan dapat melihatnya.

Seiring dengan pulihnya Tangkahan, wilayah ini menjadi tujuan ekowisata favorit di Sumatra Utara. Menurut Ary Suhandi dari Indecon (Indonesia Ecotourism Network) jumlah wisatawan yang datang ke Tangkahan terus bertambah. Tahun 2005 lalu, jumlah uang yang dibelanjakan turis di Tangkahan mencapai Rp 206 juta.

Perkembangan Tangkahan yang maju pesat ini tentu membuat Okor bahagia.Tetapi yang paling membuatnya gembira, kini anak-anak kecil di Tangkahan pun sudah pandai berbahasa Inggris. Adalah para guide lokal yang mengajari mereka. “Ini sungguh sesuatu yang tidak ternilai harganya,” ungkap bapak berusia 50 tahun itu.

Apa yang dilakukan Okor dan penduduk di desanya dapat menjadi contoh nyata betapa masyarakat yang tinggal di pinggir hutan dapat memperoleh keuntungan ekonomis dari hutan secara berkelanjutan tanpa harus menebang pohonnya. Ada banyak alternatif keuntungan selain kayu.

Dari pengalaman dan pergaulannya dengan para penebang liar, Okor mempunyai resep memberantas penebangan liar tanpa menggunakan aksi kekerasan. Jika bertemu mereka di hutan, Okor tidak melaporkannya kepada polisi sebab hal ini justru membuat mereka dendam dan enggan menghentikan aktivitas penebangan liar.

Okor melihat mereka sebagai teman dan bukan musuh yang harus diberantas. Kepada para pelaku illegal logging itu, Okor akan menasehati baik-baik dan menceritakan pengalaman pribadinya.

“Jika kita membawa polisi atau TNI, persoalannya tidak akan segera selesai. Lihatlah kasus di Besitang,” ujar Okor. Menurut Kepala Balai TNGL, Wiratno, Besitang adalah salah satu kawasan TNGL yang hancur. Luasnya mencapai 20.000 hektar.

Nun jauh di Tangkahan, tidak hanya keindahan alam saja yang dapat kita nikmati. Ada pula pelajaran bagimana hidup secara harmonis dengan alam. Okor dan penduduk di desanya membuktikan sebagai masyarakat yang hidup di pinggir hutan, menebang kayu bukanlah solusi tepat untuk menghadapi tekanan ekonomi yang kian berat.

Keluarga Ardjo Wiyono, Pembuat Kereta Kuda Untuk Kraton Yogyakarta


Oleh: Bambang MBK

Salah satu obyek wisata di Yogyakarta yang ramai dikunjungi turis adalah Museum Kereta. Di museum yang terletak di barat laut Keraton Yogyakarta itu, terdapat 22 kereta kuda koleksi Keraton Yogyakarta yang berumur ratusan tahun, bernilai sejarah tinggi dan dalam kondisi prima. Dari para pemandu, para turis itu mendapat pejelasan asal-usul dan fungsi setiap kereta kuda yang artistik itu. Tetapi satu hal yang tidak mereka ketahui adalah, siapakah yang mempunyai peran besar dalam menjaga keutuhan kereta-kereta kuda itu sehingga masih dapat berfungsi dengan sempurna ?

Jawabannya adalah keluarga almarhum Ardjo Wiyono. Keluarga ini memang ‘unik’ sebab secara turun-temurun setia menjalankan profesi sebagai ahli pembuat kereta kuda. Pihak Keraton Yogyakarta juga selalu mempercayai keluarga ini untuk memperbaiki kereta kudanya jika mengalami kerusakan. Begitu pula dengan kereta kuda koleksi Puro Pakualaman Yogyakarta juga menjadi langganan keluarga ini.

“Belum lama ini, kita baru saja memperbaiki tiga kereta kuda milik keraton,” ujar Sumardi, anak ke tiga dari almarhum Ardjo Wiyono. Rumahnya yang sederhana dan tidak terlalu besar di Desa Jetis, Bantul sekitar 16 km selatan Yogyakarta pun menjadi sesak dengan kereta. Sambil membuka buku berjudul Kratonkoetsen op Java terbitan De Bataafsche 1986 yang berisi koleksi kereta kuda milik kerajaan-kerajaan di Jawa, Sumardi menunjukan foto kereta kuda milik Keraton Yogyakarta yang baru saja ia renovasi, yaitu jenis landauer buatan tahun 1800-an.

Siang itu, sambil beristirahat di bengkel yang terletak tepat di depan rumahnya, Sumardi bercerita dahulu ayahnya, Ardjo Wiyono adalah seorang abdi dalem keraton yang memiliki keahlian membuat kereta kuda. Ardjo Wiyono sendiri mewarisi keahlian ini dari ayahnya yang bernama Prawiro Redjo.

Setelah Ardjo Wiyono meninggal, profesi sebagai pembuat kereta kuda itu diteruskan anak-anaknya. Dari lima bersaudara yang semua pria itu, hanya tiga yang menjalani pekerjaan ini secara konsisten, yaitu Sumardi, Sugiman dan Djiono. “Tetapi jika ada pekerjaan membuat kereta kuda baru atau merenovasi kereta kuda milik Keraton Yogyakarta, dua saudara saya lainnya pasti ikut membantu,” ujar Sumardi yang pernah mendapat pelatihan dari ahli kereta kuda dari Belanda.

Sumardi (41 tahun) bercerita sejak kecil, ia dan empat saudaranya selalu membantu ayahnya membuat kereta kuda. Dari situlah mereka mewarisi ketrampilannya ayahnya. Sumardi masih ingat, kereta kuda dari Keraton Yogyakarta yang pernah direnovasi ayahnya dan ia sendiri ikut membantu adalah kereta kuda bernama Kyai Manik Retno.

“Kereta kuda milik Keraton Yogyakarta yang direnovasi biasanya mengalami kerusakan pada bagian body,” ujar Paidi, anak sulung Ardjo Wiyono yang menjadi pemandu wisatawan di Museum Kereta kuda itu. Karena faktor usia, umumnya body kereta kuda yang terbuat dari kayu itu mengalami pelapukan. Bagian yang lapuk itu kemudian diganti dengan kayu jati pilihan. Proses perbaikan tetap mengacu pada bentuk semula, tidak ada sedikit pun yang berubah. Selain jenis landauer, kereta kuda Kyai Roto Biru, Kyai Notopuro, Kyai Rejo Panoko dan lainnya pernah merasakan sentuhan perbaikan keluarga Ardjo Wiyono.

Memperbaiki kereta kuda milik keraton tentu berbeda dari kereta kuda biasa. Pasalnya kereta-kereta kuda yang sebagian besar buatan Belanda tahun 1800-an itu dianggap sebagai benda keramat. Keraton Yogyakarta pun menganggapnya sebagai benda pusaka. Setiap kereta kuda memiliki nama seperti Kyai Garuda Yekso, nama kereta kuda termewah buatan 1860 yang digunakan untuk upacara penobatan raja baru.

“Sebelum merenovasi, biasanya kita menjalankan prosesi upacara selamatan dahulu. Ini suatu keharusan dan sudah menjadi tradisi,” ujar Sumardi. Dalam upacara selamatan ini, anak-anak alamarhum Ardjo Wiyono duduk dan berdoa bersama. Dihadapan mereka ada sesaji berupa ingkung ayam. Bila proses perbaikan selesai, upacara selamatan diadakan sekali lagi. “Sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas keselamatan yang diberikannya,” tambah Sumardi.

Bagi anak-anak Ardjo Wiyono, merenovasi kereta kuda milik keraton menjadi berkah sendiri. Sebab pada saat itu ke lima anak Ardjo Wiyono akan berkumpul dan saling bekerja sama dalam memperbaiki kereta kuda yang dikeramatkan itu. Jadi momen ini pun menjadi suatu ajang ‘reuni keluarga’.

Namun bila tidak ada ‘job’ memperbaiki kereta kuda pusaka, tinggal Sumardi, Sugiman dan Djiono yang masih bergelut dengan dunia kereta kuda. Mereka menerima perbaikan andhong yang rusak. Andhong adalah jenis kereta kuda yang masih digunakan sebagai alat transportasi tradisional di Yogyakarta. Seperti yang terlihat siang, itu mereka rukun dan tampak saling membantu.

Sesekali mereka juga membuat kereta kuda yang indah – hasil rombakan dari andhong – atau mengerjakan pesanan orang. Sebuah kereta kuda yang cukup bagus kini tersimpan di ruang tamu rumah mereka, siap dipinang pecinta kereta kuda yang berminat. Harganya Rp 25 juta. Menurut Sugiman, ongkos terbesar pembuatan kereta kuda yang memerlukan waktu sekitar 3 bulan itu terletak pada upah tenaga kerjanya.

Salah seorang pelanggan kereta kuda buatan keturunan Ardjo Wiyono ini adalah Hamzah Hendro Sutikno, seorang pengusaha terkemuka pemilik Toko Mirota Batik. “Pak Hamzah sudah pesan kereta kuda berkali-kali,” ungkap Sumardi. Salah satu pesanan Hamzah adalah kereta kuda replika dari kereta kuda milik Keraton Yogyakarta jenis coupe driekwart yang bernama Kus Gading. “Saya puas dengan hasil karya mereka,” ungkap Hamzah suatu ketika.

Waktu terus berlalu. Sumardi dan saudaranya adalah generasi ketiga yang masih setia menekuni pekerjaan sebagai pembuat kerera kuda. Walaupun tak banyak diketahui orang, keluarga ini mempunyai peran besar dalam menjaga kontinuitas sejarah koleksi kereta kuda milik Keraton Yogyakarta sehingga selalu tampak bagus dan pantas dikagumi para wisatawan.

Tetapi apakah profesi yang menjadi tradisi keluarga ini masih akan berlanjut di masa datang? Ini adalah sebuah pertanyaan besar yang harus dijawab keluarga besar keturunan Ardjo Wiyono. Sebab hingga kini belum ada cucu Ardjo Wiyono yang memperlihatkan ketertarikan terhadap dunia kereta kuda. Akankah tradisi keluarga ini terputus? Waktu pula yang akan menjawabnya.

Suroyo, ‘Raja Sepeda’ Gazelle dari Yogyakarta


Oleh: Bambang Muryanto

Setelah pemerintah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) sebesar hampir 100 persen sejak 1 Oktober lalu, banyak masyarakat yang kembali melirik sepeda sebagai alat transportasi. Tetapi tanpa ada kenaikan harga BBM, sejak dahulu H. Suroyo, seorang pengusaha kerajinan perak di Kotagede, Yogyakarta masih cinta naik sepeda. Bahkan ia mempunyai koleksi belasan sepeda kuno merek Gazelle buatan tahun 1950 hingga 1960 yang salah satu diantaranya berharga Rp 75 juta.

Sejak muda, Suroyo yang kini berusia 56 tahun itu memang suka bersepeda. Dahulu, bapaknya yang seorang penjual hasil bumi selalu menggunakan sepeda merek ini untuk alat transportasi. Dari situlah, Suroyo merasakan betapa enaknya naik sepeda merek ini. Sepeda yang mulai diproduksi tahun 1902 di Desa Dieren, Belanda ini memang dikenal sebagai sepeda yang kuat dan enak dikendarai. Menempuh perjalanan jauh dengan sepeda ini juga tidak mudah membuat badan cepat letih.

Itulah sebabnya Gazelle dianggap sebagai ‘Marecedes Benz’-nya sepeda. Tidak heran jika sejak dahulu harganya sudah cukup mahal. Konon harganya selalu mengikuti standar emas. Pada tahun 1950-an harga sebuah Gazelle baru setara dengan harga 2 ons emas. “Pada tahun 1968, ada orang yang mau menukar sebuah sepeda Gazelle seri 10 kami dengan sebuah motor Honda,” ungkap Suroyo yang berbadan tegap dan sehat itu.

Pada tahun 1970-an saat kuliah di Fakultas Ekonomi, Universitas Islam Indonesia (UII) Suroyo juga tidak naik sepeda motor. Ia tetap menggunakan sepeda berlambang kijang sedang berlari itu. “Saya tidak lelah,” kenang pemilik gerai Sus’s Silver itu. Padahal jarak antara kampus UII dan rumahnya yang saat itu masih di Prambanan cukup jauh, sekitar 18 km.

Setelah berhasil meraih gelar sarjana, Suroyo berkarir di instansi Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Raya (DLLAJR). Tahun 1980-an, karena alasan pribadi, ia memutuskan pensiun dini dan kembali ke Yogyakarta. Di kota asalnya ini, ia bertemu kembali dengan sepeda Gazelle seri 9 yang pernah menemaninya selama kuliah dulu.

Pertemuan dengan ‘sahabat lamanya’ itu ternyata menumbuhkan keinginan Suroyo untuk mengkoleksi sepeda Gazelle. Perburuan pun dimulai. Tidak mudah untuk mendapatkan sebuah sepeda Gazelle lama karena barang ini mulai langka. Perlahan, namanya mulai dikenal diantara kolektor sepeda. Banyak informasi tentang sepeda Gazelle yang akan dijual masuk ke telinganya. Koleksinya pun terus bertambah.

Suroyo pernah membeli 5 buah Gazelle seri 11 sekaligus dari seseorang yang butuh uang untuk pergi haji. Di Bandung, Suroyo berhasil menemukan sepeda Gazelle yang 95 persen masih baru pada pertengahan tahun 1990-an. Konon sepeda yang dibodinya masih menempel stiker pajak sepeda bertahun 1950 ini jarang digunakan dan hanya tersimpan di gudang.

Tentu saja Suroyo gembira bukan kepalang. Barang ini sangat istimewa karena semua bagiannya masih orisinil. Garis kuning di tubuh sepeda dan cap merk Gazelle pada bagian bodi bawah sadel masih utuh. “Ini yang membuat sebuah Gazelle harganya mahal,” tandas peraih gelar S2 jurusan Transportasi dari ITB itu. Waktu itu, ia rela mengeluarkan uang sebesar Rp 30 juta untuk memiliki sepeda istimewa ini.

Di antara koleksinya, sepeda inilah yang menjadi ‘primadona’. Kini harga sepeda yang dirancang untuk perempuan itu mencapai Rp 75 juta. Tidak mudah membujuk Suroyo agar memperlihatkan koleksi sepeda termahalnya itu. Sepeda ini ibarat ‘mahkota’ yang mengukuhkannya sebagai ‘raja sepeda’ Gazelle. “Yang satu ini, tidak akan saya jual.,” tambahnya. Menurutnya, dalam jangka waktu 10 tahun belum tentu ia dapat menemukan Gazelle dengan kualitas seperti itu.

Dari perburuannya itu, koleksi sepedanyanya sempat mencapai 39 buah. Saat ikut memeriahkan Festival Kesenian Yogyakarta I, Suroyo pernah membuat geger Yogyakarta. Waktu itu, ia dan 15 pegawainya konvoi naik sepeda Gazelle semua. “Orang-orang pada heran, bagaimana caranya mengumpulkan sepeda Gazelle sebanyak ini,” ungkap Suroyo.

Tetapi karena hobinya ini juga menjadi bisnis sampingan, bapak dari dua anak ini juga menjual sepeda koleksinya kepada sesama kolektor atau orang yang sekedar ingin memiliki sepeda Gazzelle. Beberapa pejabat baik di Yogyakarta dan beberapa kota lainnya pernah membeli sepeda darinya.

Kini, koleksi sepedanya tingal 15 buah. Paling murah berharga sekitar Rp 15 juta. Memang tidak murah, pasalnya sepeda-sepeda koleksi Suroyo itu kebanyakan masih orisinal semuanya seperti lampu, sadel, pedal, ban dan lain-lainnya. Semuanya dapat digunakan karena Suroyo dengan dibantu beberapa pegawainya yang merawat semua sepeda buatan Willem dan Hendrik Kolling itu.

Sebagian koleksi sepedanya disimpan di dalam gudang kecil di rumahnya. Bagi mereka yang sempat melihat koleksi speda Suroyo pasti akan terkejut karena sepada-sepeda itu bercampur dengan harta Suroyo lainnya yaitu koleksi lukisan. Jelas bukan lukisan murah karena ada lukisan karya pelukis Indonesia di masa lalu yang cukup terkenal seperti Indra Gunawan dan Trubus. Ada pula lukisan karya Walter Spice dan masih banyak lainnya. Suroyo memang seorang kolektor lukisan.

Selain berburu sepeda Gazelle, Suroyo juga mengumpulkan berbagai onderdil Gazelle yang orisinal. Meskipun hanya onderdil sepeda, jangan dikira harganya murah. Sebuah sadel (tempat duduk) orisinil yang sudah bulukan masih bisa menembus Rp 2 juta. Sedangkan sepasang ban luar orisinal berwarna putih --- sudah tidak diproduksi lagi --- juga berharga Rp 2 juta.

Sebagai seorang ‘raja sepeda’ Gazelle, Suroyo tentu masih setia naik sepeda favoritnya itu. “Sehabis Subuh, saya selalu naik sepeda keliling kota selama satu jam,” ujar pria yang ramah itu. Kadang-kadang bersama teman-temannya pecinta Gazelle, mereka juga malakukan touring ke Pantai Parangtritis yang berjarak sekitar 30 kilometer.

Kehidupan Suroyo memang tidak bisa dilepaskan dari sepeda Gazelle. Baginya, sepeda tidak sekedar alat transportasi biasa. Sepeda selalu mengingatkannya pada proses perjalanan hidupnya sejak belum menjadi apa-apa hingga menjadi pengusaha yang cukup sukses. Ternyata menjadi orang sukses itu harus melalui proses dan tidak dapat dicapai secara ‘instan’, begitulah hikmah kehidupan yang ia petik.