Thursday, April 7, 2011
Sunday, April 3, 2011
Mas Asih, Juru Kunci Baru Gunung Merapi
Akhirnya acara yang ditunggu pun tiba. GBPH H Joyokusumo selaku Penghageng Kawedanan Hageng Panitrapura Kraton Yogyakarta membacakan Press Release tentang “Pengirit Abdi Dalem Juru Kunci Gunung Merapia karaton Ngayogyakarta Hadiningrat”. Sang tuan rumah, Gusti Joyo, demikian panggilan akrabnya didampingi dua puteri Sri Sultan Hamengku Buwono X, yaitu GKR Pembayun dan GKR Condrokirono.
“Setelah menerima dan mempelajari laporan panitia, Ngarso Dalem Sampean Dalem Ingkang Sinuwun (Raja Kraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X) menetapkan Dhawuh dalem bahwa, Abdi Dalem Juru Kunci Gunung Merapi Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat adalah Mas Bekel Anom Suraksosihono,” ujar Joyokusumo. Itulah bagian terpenting dari pengumuman sore itu.
Hujan deras pun mulai mengguyur
Dengan pengumuman ini maka Mas Bekel Suraksosihono atau akrab dipanggil Mas Asih (46 tahun) resmi menjadi juru kunci baru Gunung Merapi. Ia menggantikan ayahnya, Mbah Maridjan yang meninggalkan akibat letusan Gunung Merapi 26 Oktober 2010 lalu. Mas Asih adalah anak ketiga.
Menurut Joyokusumo, pihak Kraton Yogyakarta sebelumnya membentuk tim seleksi untuk menentukan juru kunci Gunung Merapi yang baru itu. Tim seleksi terdiri dari sembilan orang dan berisi para Abdi Dalem Sipat Bupati Karaton
“Yang diseleksi ada 18 abdi dalem juru kunci Gunung Merapi,” tambah Joyokusumo. Tim melakukan seleksi 15 Maret lalu di Ndalem Joyokusuman. Namun dari 18 abdi dalem itu hanya yang laki-laki saja yang diseleksi, jumlahnya 8 orang.
Setelah ditunjuk sebagai juru kunci Gunung Merapi yang baru, ia akan naik pangkat dari Mas Bekel Anom menjadi Mas Lurah. Upacara pelantikan dilakukan Senin (4/4) di Bangsal Kasatriyan, Kraton Yogyakarta.
Dalam kesempatan itu Joyokusumo mengingatkan agar citra juru kunci Gunung Merapi jauh dari komersialisasi. “Jangan sampai terulang, upacara labuhan ada sponsornya,” tandas adik Sultan Hamengku Buwono X itu. Jaman Mbah Maridjan – yang menjadi bintang iklan -- dahulu, Gusti Joyo sudah mencoba memperingatkannya. “Tetapi Mas Ngabehi kelihatannya kesulitan,” tambahnya.
Sore itu GPBH Yudhaningrat sebagai manggala datang terlambat. Namun di penghujung acara, ia sempat menyerahkan seperangkat pakaian peranakan (pakaian tradisional Jawa) kepada Mas Asih.
Kepada para jurnalis, Asih mengatakan dirinya mengucapkan terima kasih kepada sinuhun (Raja Kraton Yogyakarta) atas pengangkatan dirinya menjadi juru kunci Gunung Merapi. “Semoga saya sebagai pengganti bapak (Mbah Maridjan) dapat melaksanakan amanah dengan baik sesuai aturan Kraton Yogyakarta,” ujar pegawai bagian administrasi Fakultas MIPA Universitas Islam
Gunung Merapi masih berstatus waspada, beberapa tahun lagi gunung yang masuk kategori teraktif di dunia itu pasti akan erupsi lagi. Sebuah tugas yang tidak ringan berada di pundak Mas Asih. Ia akan menjadi jembatan antara dunia magis Gunung Merapi dan yang nyata. (foto dan teks: bambang muryanto)
Tuesday, March 22, 2011
Rail One, Kereta Api Khusus Pejabat

Friday, August 20, 2010
Misteri Candi-candi di Gunungkidul

Nun jauh di Desa Candirejo, Ngawen, Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang kering, terdapat sebuah peninggalan kebudayaan tua yang nyaris dilupakan orang. Di salah satu sudut desa itu, tepatnya di perbatasan ladang dan perumahan penduduk terdapat bongkahan batu-batu andesit berbentuk segi empat yang tertata dalam empat tingkat. Di tingkat paling atas, susunan batu sangat rapat. Inilah sisa-sisa sebuah candi bernama Candi Risan.
Andi Putranto, dosen arkeologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (UGM), mengatakan paling tidak ada sekira 17 candi yang tersebar di berbagai tempat di Kabupaten Gunungkidul. Misalnya di Desa Ngawis, Karangmojo, Desa Pulutan dan Ngawu (Kecamatan Wonosari). Adapula di Desa Plembutan, Playen yang berdiri di tanah berukuran sekira 30 x 25 meter. Semuanya sudah berupa reruntuhan, yang terbuat dari batu putih, khas Gunungkidul yang kaya batuan kapur. Hanya Candi Risan saja yang terbuat dari batuan andesit.
Inventarisasi candi di Kabupaten Gunungkidul dilakukan berdasarkan temuan seperti sisa pondasi candi, tumpukan batuan yang menyusun bangunan candi, arca dan frgamen puncak stupa yang tersebar di 8 kecamatan. Penemuan arca di suatu lokasi dapat menjadi indikasi di lokasi itu kemungkinan besar pernah berdiri sebuah candi. “Sebab candi itu adalah rumah arca,” ujar Andi.
Walaupun ada belasan situs candi di Gunungkidul, tetapi banyak orang dan bahkan warga Gunungkidul sendiri tidak mengetahuinya. Wilayah ini lebih dikenal sebagai wilayah yang tandus, kering, memiliki pegunungan kapur yang indah serta pantai-pantai yang eksotik.
Ketika saya mencari reruntuhan candi di Desa Giring, Paliyan, beberapa perangkat desa yang saya tanya mengatakan tidak tahu. Namun saya beruntung bisa menemukannya. Reruntuhan candi ini berupa beberapa balok batu putih dan batu lumpang – batu yang berlubang di tengahnya-- yang tersusun dalam segi empat. Sementara di bagian tengahnya ada batu persegi yang meyerupai nisan dan dipagari dengan kain putih. Situs ini dinaungi dua pohon besar dan terdapat di tengah ladang. Ada bekas sesaji, sisa bakaran kemenyan dan botol minyak wangi, pertanda ada orang-orang yang melakukan ritual di situs ini.
Dari sekian banyak reruntuhan candi itu, reruntuhan Candi Risan adalah yang paling lengkap. Keberadan sebuah patung Avalokiteswara makin menguatkan jika di situs itu dahulu pernah berdiri sebuah candi. Patung Avalokiteswara yang menggambarkan seorang pria sedang duduk bersila adalah salah seorang dewata dalam agama Budha. Artinya Candi Risan adalah sebuah candi Budha.
“Tahun 1984, arca ini dicuri orang dan kemudian ditemukan di Singapura,” ujar Wiro Suyoto, salah satu penjaga Candi Risang. Untuk alasan keamanan, arca seberat 600 kg dan waktu itu laku Rp 270 juta itu disimpan di Kantor BP3 Yogyakarta. Berada di sisi kiri pintu masuk kantor itu, patung ini seperti ‘satpam’ yang mengawasi siapa pun yang masuk ke kantor yang berada di Prambanan itu.
Dari sisa reruntuhan candi-candi di Wonosari, terlihat pengerjaannya tidak sebagus candi-candi di sekitar Prambanan yang diperkirakan pernah menjadi pusat kekuasaan (pemerintahan) pada jamannya. Andi menduga candi yang dibangun jauh dari pusat kekuasaan memang mempunyai kualitas yang tidak bagus. “Pengerjaannya tidak halus,” ujarnya.
Hingga saat ini masih belum jelas siapa yang membangun, kapan dibangun dan mengapa ada banyak candi di kawasan Gunungkidul. Inilah bagian dari rantai sejarah peradaban manusia masa lalu di Gunungkidul yang masih gelap. “Tidak ada satu pun prasasti yang menceritakan tentang pembangunan candi-candi di Gunungkidul,” tandas Kepala BP3 (Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala) Yogyakarta, Herni Pramastuti seraya mengatakan candi-candi itu ada yang berciri candi Hindu dan candi Budha.
Akibatnya penelitian tentang keberadaan candi-candi di Gunungkidul juga minim. “Hanya ada satu skripsi (di jurusan arkeologi UGM) tentang candi-candi di Gunungkidul,” ujar Andi.
Berdasarkan tradisi lisan, banyak tetua desa di Gunungkidul mengatakan jika leluhur mereka adalah warga Kerajaan Majapahit yang melarikan diri saat kerajaan itu runtuh akibat serangan kerjaan Islam Demak. Warga Majapahit yang beragama Hindu dan tidak mau takluk dibawah Kerajaan Demak itu akhirnya melarikan diri ke berbagai wilayah, salah satunya berhenti dan tinggal di Gunungkidul.
Jika demikian, apakah para pelarian dari Kerajaan Majapahit di Jawa Timur adalah para pendiri candi-candi di Gunungkidul? “Kalau memang benar ada pelarian dari Majapahit, mengapa mereka tidak meninggalkan seni bangunan bercirikan Majapahit?” gugat Andi. Ciri bangunan gaya Majapahit, salah satunya adalah menggunakan batu bata. Sedangkan reruntuhan candi-candi di Gunungkidul terdiri dari gabungan batuan andesit dan batu putih.
Selain itu, arca-arca yang ditemukan di Gunungkidul juga tidak menunjukkan ciri arca masa Majapahit. Arca masa Majapahit biasanya mempunyai ukiran teratai yang keluar dari guci.
Dengan bukti-bukti ini, Andi tidak yakin para pelarian Majapahit adalah pembuat candi-candi di Gunungkidul. Baginya cerita pelarian dari Majapahit adalah foklor yang biasa ada pada masyarakat tradisional. Itu adalah usaha masyarakat Gunungkidul untuk mencari pengakuan.
Mungkin bila diketahui secara pasti kapan pembuatan candi-candi di Gunungkidul, paling tidak dapat menuntun kepada jawaban siapa pembuat candi itu apakah pelarian Majapahit atau bukan. Namun penelitian ilmiah untuk mengukur umur batu-batu candi itu secara pasti memerlukan biaya mahal.
Andi memperkirakan candi-candi di Gunungkidul dibangun pada masa klasik, yaitu antara abad 6 hingga 10 Masehi, bersamaan dengan masa-masa pembangunan candi-candi di Prambanan. Sedangkan Herni memperkirakan pada abad 9 Masehi. Jika perkiraan waktu ini benar maka pembangunan candi-candi di Gunungkidul juah mendahului keruntuhan Kerajaan Majapahit yang terjadi pada abad 16 Masehi.
Walaupun masih diselimuti misteri, keberadaan candi-candi ini dapat menjadi petunjuk jika di masa lalu ada kemungkinan Gunungkidul adalah wilayah yang subur. Sebab candi biasanya didirikan di wilayah yang subur. Wilayah yang subur mampu menghasilkan hasil bumi sehinga dapat digunakan membiayai pemeliharaan candi. “Mungkin pada abad 8 Masehi, Gunungkidul adalah wilayah yang masih subur,” ujar Andi.
Siang itu, saya berdiri di pojok sambil menatap reruntuhan candi Plembutan. Ingin rasanya mengetahui siapa yang membuat candi ini dan lainnya di Gunungkidul. Bukan tidak mungkin misteri ini akan terungkap. Semuanya soal waktu dan asalkan kasus candi Papringan tidak terulang lagi. Candi itu sudah ‘lenyap’ karena masyarakat setempat menggunakan sisa-sisa batuan candi itu sebagai pondasi jalan. Jika ini terjadi lagi, misteri candi-candi di Gunungkidul akan abadi. (Bambang Muryanto)
Monday, November 9, 2009
Polisi Copot Poster dari Truk Polisi

Seorang anggota polisi mengambil salah satu poster yang diletakkan salah seorang anggota pendukung Aliansi Masyrakat untuk KPK (AMUK) Yogyakarta pada kaca depan sebuah truk polisi. Ketika masih tertempel di kaca depan truk polisi, banyak fotografer yang tertarik untuk mengabadikannya. Ini terjadi saat AMUK Yogyakarta menggelar aksi melawan kriminalisasi KPK yang berlangsung di depan Tugu Serangan Oemoem 1 Maret, Yogyakarta, 5 Nopember 2009.
Ketika petugas polisi ini mengambil poster, massa aksi menjadi 'bergemuruh'. Mereka secara spontan meneriakkan yel-yel,"Buaya, buaya". (foto dan teks: bambang muryanto)
AMUK Yogyakarta Melawan Kriminalisasi terhadap KPK

Aliansi Masyarakat untuk KPK (AMUK) Yogyakarta menggelar aksi turun ke jalan untuk memberikan dukungan bagi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang sedang mengalami proses kriminalisasi dari kepolisian, kejaksaan yang bekerja sama dengan cukong. Mereka yang tergabung dalam aksi ini adalah para aktivis NGO, akademisi, advokat, seniman, mahasiswa dan para nasabah Bank Century. dalam aksi itu, para aktivis menuntut agar Kabareskrim Susnoduaji, Kapolri Bambang Hendarso Danuri, Jaksa Agung Hendarman Supanji mengundurkan diri karena institusi yang dipimpinnya terlibat dalam kriminalisasi terhadap KPK.
Selain itu, massa aksi juga menuntut Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) juga mengundurkan diri jika tidak mampu menuntaskan kasus ini. Dalam aksi ini masing-masing elemen pendukung memberikan orasinya. Terakhir, AMUK Yogyakarta mengirimkan petisi kepada Presiden SBY yang dikirim langsung melalui kantor Pos Besar Yogyakarta.
Seperti terlihat dalam foto, para nasabah Bank Century maan roti buaya dan kemudian memuntahkannya sebagai bentuk protes kriminalisasi yang dilakukan buaya (kepolisian, kejaksaan dan cukong) terhadap cicak (KPK dan masyarakat sipil pendukung KPK). (foro dan teks: bambang muryanto)
Surat Buat bapak….

Bapakku sayang…
Kami ini anak-anakmu yang selama ini selalu menderita, terkebiri dan mati suri
Kenapa bapak? Apa bapak sudah impoten hingga takut menyingkirkan awan
Gelap ini…apa kami ini tak pantas untuk menjalani kehidupan…! Hahahaha…
Mati sudah demokrasi di rumah ini
Bapakku sayang…
Kami sering lihat ibu mengorup uang belanja hingga akhirnya kami kelaparan
Dan sengsara…tapi kenapa bapak cuma diam saja?
Apa bapak senang lihat ibu menteror dan mencambuk kami, hingga kami bingung
Membedakan mana yang benar..mana yang tidak!
Bapakku sayang…
Ini juga rumah kami, bukan hanya milik bapak dan ibu…jadi kami berhak dong
Buat protes ke kalian…menuntut kebenaran dan membenci kebusukan kalian…
Toh kalau undang-undang dasar di rumah kita ini nggak ngaret mungkin semua akan baik-baik saja…
Ibuku tercinta…
Sudahi saja omong kosong ini…ibu kami pilih karena kami yakin ibu bisa
Mewakili aspirasi kami…bapak sudah lama sendiri dan dingin…tapi..
Kenapa ibu jadi beringas seperti serigala…makan semua hak-hak kami…
Hingga daging kami yang tinggal sekerat engkau kunyah pula…!
Ibuku tercinta
Setelah habis uang belanja kita…kau potong pula kelamin bapak
Hingga akhirnya bapak hanya bisa diam dan membatu…kami tahu semua
Konspirasi kalian…kebusukan kalian…kemaksiatan kalian…
Cukup sudah!...kami akan tetap meradang, walaupun nantinya akan
Hancur lebur rumah kita…kami rela demi tegaknnya keadilan di rumah kami….
Dari kami:
Perkumpulan ombak raya
Rangrawa community
United rock’n roll
Perkumpulan bumi hangus
Tri suharyono
Jhoni chandra
Dwi setiawan
Tova
Herry gabriel
Puisi ini dibacakan para seniman dari komunitas ombak raya dalam aksi demonstrasi melawan kriminalisasi KPK (Cicak Vs Buaya) yang diadakan AMUK (Aliansi Masyarakat untuk KPK) dari Yogyakarta. Aksi yang melibatkan mahasiswa, aktivis NGO, dosen, pengacara dan seniman ini berlangsung di depan Monumen Serangan Oemoem 1 Maret Yogyakarta, 5 Nopember 2009.
Tuesday, October 27, 2009
Di Sungai Mbedog, Pria Tua itu Menggantungkan Hidupnya

Hujan turun sehari sebelumnya, merubah Sungai Mbedog yang indah menjadi ‘kotak sampah’. Sampah plastik yang hanyut bersama air hujan, tersangkut di pinggiran sungai, dahan pohon bambu yang meliuk ke sungai atau terdampar di bebatuan besar. Di sebuah kelokan sungai, Widyo Sartono (67) yang hanya mengenakan celana pendek hitam, ‘menenggelamkan’ dirinya hingga separuh badan. Dengan sedikit membungkuk, ia mengarahkan sekop kecil ditangannya untuk mencari pasir di dasar sungai.
Walupun sudah berjam-jam berendam di sungai yang berhulu di lereng Gunung Merapi, Widyo tidak merasa kedinginan. “Tidak dingin karena masih ada sinar matahari,” ujarnya sambil terus mencari pasir. Tajuk dari pohon-pohon bambu yang tumbuh di bantaran sungai, ada yang terbuka sehingga memberi celah bagi sinar matahari untuk menerobos masuk dan menghangatkan tubuhnya saat berada di sungai.
Seperti biasanya, di Minggu pagi yang cerah itu, Widyo mencari pasir di Sungai Mbedog yang melintasi kawasan Dusun Sembungan, Tamantirto, Kasihan, Kabupaten Bantul. Hanya beberapa belas meter di selatan rumah pelukis ‘satu milyar’ Joko Pekik yang asri. Arus air sungai tidak terlalu deras
Setelah seonggok pasir terkumpul di sekop, Widyo mengangkatnya ke permukaan air. Ia menyingkirkan batu besar serta sampah-sampah yang ikut terambil. Banyaknya sampah yang masuk ke sungai memberi Widyo tambahan pekerjaan. Bila sudah bersih, ia memasukkan pasir itu ke dalam bakul besar yang diletakkan di atas ‘meja’ tinggi terbuat dari bambu sehingga bagian atasnya tetap muncul di atas permukaan air sungai. Agar tidak hanyut terbawa arus, ia meletakkan sebongkah batu besar di atas ‘meja’ itu.
Widyo tidak berhenti di satu tempat dalam mencari pasir yang warnanya kehitam-hitaman karena bercampur lumpur itu. Ia selalu menjelajahi dasar sungai di sekitar lokasinya untuk menemukan endapan pasir yang masih tebal.
“Saya sudah mencari pasir sejak lima tahunan lalu,” ujar bapak dari 3 anak itu. Semula ia adalah pencari batu untuk pondasi bangunan di Gunung Sempu yang tidak jauh dari tempat tinggalnya, Dusun Sembungan. Tetapi ia terpaksa berhenti mencari batu karena gunung itu menjadi lokasi pemakaman Cina.
Kehilangan mata pencaharian tidak membuat Widyo yang berbadan kokoh itu menjadi pengangguran. Pria yang kadang-kadang menjadi tukang batu ini tidak mau menjadi beban orang lain. Hidup mandiri di atas kaki sendiri, mungkin menjadi salah satu moto hidupnya.
Karena ia tidak mempunyai sawah atau ladang, mencari pasir menjadi pilihan selajutnya untuk menyambung hidup. Pasir di dasar Sungai Mbedog itu berasal dari Gunung Merapi yang hanyut bersama arus air. Musim kemarau, adalah saat dimana pasir sulit dicari. “Jika hujan sudah datang berkali-kali, pasir mudah didapatkan,” ujarnya.
Saat bakulnya sudah penuh pasir, Widyo mengangkat ke pinggir sungai. Bakul berisi pasir itu ia letakan di atas bahunya. Dengan hati-hati ia keluar dari sungai dan berjalan menapaki bibir sungai yang licin. Tampak otot-otot di bagian betisnya menyembul keluar, pertanda ia sering membawa beban berat. Pasir di bakul itu kemudian ia kumpulkan di suatu tempat lapang, beberapa meter dari sungai.
Begitulah ia menjalani rutinitasnya sebagai pencari pasir. Jika jarum jam sudah menunjuk pukul 1 siang, ia akan berhenti. Aktivitas selanjutnya adalah mencari rumput untuk lima ekor kambingnya. Ini adalah tabungannya yang sewaktu-waktu dapat dijual bila ia mendadak membutuhkan uang dalam jumlah besar. Sederhana, tetapi ia tahu bagaimana menyiasati ritme kehidupan yang semakin sulit.
Berapa pendapatan yang diterima Widyo dari mencari pasir? Bila pasir yang dikumpulkannya setara dengan satu pick up colt, ia menerima imbalan Rp 65 ribu. Widyo mengatakan ia harus mengumpulkan pasir sebanyak ini selama dua atau tiga hari.
Widyo adalah satu dari banyak pencari pasir di Sungai Mbedog yang akhirnya menyatu dengan Sungai Progo di Kecamatan Pajangan, Bantul itu. Di Sungai Mbedog yang penuh dengan sampah itu, pria tua itu menggantungkan hidupnya. Ia adalah sosok orang mandiri. Jika ada bantuan yang diinginkan, mungkin adalah kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah ke sungai sebab itu membuatnya ia harus bekerja lebih keras lagi. (foto dan teks: Bambang Muryanto)
Saturday, September 5, 2009
Gedung Proyodranan, Kotagede Terlantar

Gedung Pertemuan Proyodranan di Jalan Mondorakan, Kotagede adalah sebuah bangunan cagar budaya. Bangunan ini dibangun pada tahun 1857. Sayang kondisinya sangat tidak terawat. Beberapa tiang pilar penyangganya sudah ada yang miring. Sedangkan bagunan di sayap barat sudah runtuh. Pada pagar di sebelah timur, terpampang sebuah 'pengumuman' jika rumah antik ini dijual!
Pemerintah Kota Yogyakarta seharusnya ikut melindunginya karena mempunyai peraturan tentang perlindungan bagunan cagar budaya. Salah satunya dengan cara memberikan suntikan dana kepada pemiliknya untuk biaya perawatan. Atau mungkin juga membelinya dan kemudian merawatnya. Gedung ini dapat menjadi salah satu daya tarik wisata bagi kawasan Kotagede. (foto dan teks: bambang muryanto)
Thursday, September 3, 2009
Pelanggaran Biaya Parkir

Parkir! Siapa yang menyangka jika parkir bisa menjadi salah satu bisnis yang menggiurkan. Lihat saja di sepanjang Jalan Malioboro, setiap hari ribuan sepeda motor parkir di sisi timur jalan yang paling populer di Kota Gudeg ini. Gambaran seperti ini, barisan motor-motor yang diparkir terlihat di jalan-jalan yang lain, terutama yang berdekatan dengan pusat kegiatan atau bisnis.
Sekali parkir, setiap pemilik motor menurut peraturan pemerintah kota Yogyakarta hanya dikenai Rp 500. Itu tertulis pada karcis parkir yang diberikan kepada konsumen. Ini karcis parkir resmi yang dikeluarkan pemerintah Kota Yogyakarta
Tetapi kenyataannya, setiap juru parkir mengenakan biaya parkir dua kali lipat. Jasdi sekali parkir biayanya Rp 1000. Ini terjadi di hampir semua lokasi parkir yang strategis.
Para juru parkir membuat cap baru harga di atas karcis resmi. Hal ini tentu saja merugikan para konsumen. Kemana larinya kelebihan ongkos yang diberikan konsumen?
Kondisi ini sudah berlangsung agak lama. Tetapi hingga saat ini pemerintah Kota Yogyakarta tampaknya tidak mengambil tindakan tegas terhadap pelanggaran ini. Mengapa ini dibiarkan? Apa kendala pemerintah sehingga tidak bisa menertibkan harga parkir ini? (foto dan teks: bambang muryanto)
Tuesday, August 25, 2009
Senja di Bukit Patuk

Senja, saat matahari tenggelam di ufuk barat selalu menorehkan keindahan. Matahari yang berwarna kekuning-kuningan mulai menghilang dan malam pun menjelang. Bukit Patuk, perbatasan antara Kabupaten Bantul dan Gunungkidul adalah salah satu tempat yang paling cocok untuk menyaksikan sang surya tenggelam. Setiap sore di musim kemarau ini, banyak anak-anak muda yang menyempatkan diri menyaksikan tenggelamnya sang surya dari sini. (foto dan teks: Bambang Muryanto)
Indahnya Gunung Merapi

Gunung Merapi, meskipun ketika aktif sangat membahayakan tetapi tampak indah saat dalam kondisi normsl. Gunung dengan tinggi sekira 2000 meter lebih ini menjadi latar belakang kota Yogyakarta. Untuk wilayah Yogyakarta, gunung yang termasuk paling aktif di dunia ini menjadi salah satu daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke kota ini. Gambar di atas dimabil pada suatu pagi di bunderan UGM. (foto dan teks: Bambang Muryanto)
Sunday, March 15, 2009
Bebas Bendera Partai Politik dan Gambar Caleg

Di wilayah pemukiman penduduk di Yogyakarta, tidak semuanya riuh dengan gambar para calon legislatif atau umbul-umbul partai politik. Di Kalurahan kadipaten tepatnya wilayah RW 2, wargaya sama sekali menolak pemasangan gambar caleg dan umbul-umbul partai politik. Ini adalah sebuah kritik terhadap partai politik dan calegnya karena pemasangan berbagai atribut kampanye ini umumnya tidak artistik dan asal dipasang sehingga menyebabkan pemandangan yang tidak sedap. (Bambang MBK)
Thursday, February 19, 2009
A lesson from Bandung Bondowoso
Bambang Muryanto, Contributor, Yogyakarta
Prior to the creation of Sewu Temple in Prambanan, legend has it, there lived a man called Bandung Bondowoso, who, with his supernatural powers, created 1,000 temples overnight.
If Bandung Bondowoso were alive today, the damage done to the hundreds of historical sites by the tectonic quake measuring 5.9 on the Richter scale on May 27 would not have saddened Laretna T. Adhisakti so much.
""I'm really sad,"" said Laretna, of the Yogjakarta Heritage Society, of the damaged historical site.
The damage is not too hard to notice.
Take a look at the destroyed Brahmana Temple in the Prambanan compound. Slabs of stone are scattered everywhere. Next to it is the Siwa Temple, which appears to have sustained damage to its foundation. The Wisnu Temple was not spared either.
Sojiwan Temple, also located in the part of the Prambanan compound that belongs to Central Java province, is in an even worse condition. The body of the temple, which was actually undergoing reconstruction, has collapsed.
""In fact, the temple stones had been collected since 1950 and the renovation of the temple had been going on since 1992,"" said Guritno of the Central Java Center for Archaeological Conservation and Heritage (BP3).
In Central Java, other temples that have been damaged are Sewu, Plaosan Lor, Plaosan Kidul and Lumbung. Golo Mosque and an old tomb in Bayat, Klaten, were also damaged in the quake.
There are more damaged buildings in Yogyakarta than in Central Java. The Yogyakarta Palace, which Sultan Hamengku Buwono I built in 1755, was damaged in several places.
The Trajumas Hall, a building with a traditional Javanese roof known as a Joglo, where the gamelan, a royal sedan chair and other property for the Tedak Siti rite are kept, completely collapsed. The other halls, such as Srimanganti, Pagelaran and Sitihinggil, have also cracks in a number of places.
Various historical buildings around the palace such as the Hamengku Buwono IX Museum, the Grand Mosque, the Golden Carriage Museum, the houses of high-ranking nobility such as Dalem Wironegaran, Pugeran, Yudonegaran, Pujokusuman, Condroningratan and Prabeyo have also been damaged.
Baluwerti fortress that surrounds Yogyakarta Palace has cracks in the wall in several parts.
The quake, that claimed thousands of lives in Yogyakarta and Klaten, has also damaged Taman Sari, a historical building that has been named as one of the world's endangered sites. At least 10 areas in the compound were damaged.
One of these is the ornamental engraving on the upper part of Gapura Agung (Grand Gate), the main gateway to Taman Sari. Part of the wall of Cemeti Island on this site collapsed in the quake, killing two locals.
""They were a mother and her child,"" said Siswohartono, who lives in the Taman Sari compound.
Outside the palace, historical buildings such as the royal tombs in Imogiri, Bantul, Panggung Krapyak, where the Javanese kings used to hunt deer, the Paku Alam Palace, Tarumartani cigar factory, the traditional joglo Javanese houses in Kota Gede, and houses built in the Dutch Indies architectural style in various parts of Yogyakarta have also been damaged.
It is really tragic because within just 57 seconds all these historical buildings were brought to the verge of collapse and may well vanish into the abyss of history if nothing is done to fix the damage.
Aside from damaging tourist sites, the quake has also discouraged tourists from visiting Yogyakarta.
Prambanan Temple, usually the main attraction for tourists visiting Yogyakarta, is now deserted.
Although it sustained some damage, the temple is open to visitors.
""I believe the post-quake Prambanan Temple can be a special attraction for tourists,"" said Wagiman Subiarso, director of PT Taman Wisata Candi Borobodur, Prambananan and Ratu Boko, a company managing the three temples, without elaborating.
There may be some truth in Wagiman's words. However, restoring all these historical buildings must be given priority.
To this end, BP3 of Central Java has recorded all the damage and is now ready to renovate the site. A budget of some Rp 9.7 billion (around US$1.05 million) has been set aside for this purpose.
Meanwhile, the Center for the Conservation of Borobudur Heritage is now analyzing the damage sustained by Prambanan Temple.
""Using a laser scanning device, we are now examining in detail the extent of the inclination, collapse and parting of the stones that made up the temple structure,"" said Iwan Kurnianto of the Center for Conservation of Borobudur Heritage.
With the assistance of various parties such as ICOMOS Indonesia, the Architectural and Planning Department of Gajah Mada University and many other institutions, Laretna is now doing everything possible to renovate the various historical buildings that the quake has damaged.
She has contacted various parties in the global community concerned with the renovation of historical buildings in Yogyakarta.
Aside from reconstructing historical buildings, Laretna also reminds people of the need to rebuild the intangible historical legacy such as the community of traditional batik makers in Imogiri, Bantul, ceramic makers in Kasongan (Yogyakarta) and Bayat (Klaten).
""We are preparing a special place for the batik makers from Imogiri so that they can soon start making batik again,"" Laretna said.
The legend of Bandung Bondowoso describes how he went into meditation to communicate with the spirits and ask them for help to build a thousand temples overnight to meet a condition set by his prospective wife, Roro Jonggrang.
Today, a modern Bandung Bondowoso is needed, not to mobilize supernatural spirits, but to mobilize thoughts, funds and technological capability to renovate Prambanan Temple, Sewu Temple and the many other significant historical sites.
Mlangi in Ramadhan: A city that never sleeps
Bambang Muryanto, Contributor, Yogyakarta
On Monday afternoon, just days ahead of the Islamic fasting month, the call to prayer echoed throughout Mlangi, one of the oldest villages in Sleman, Yogyakarta.
Men wearing sarongs and caps hurried to the biggest mosque in the village, Jami' Mlangi, to attend the prayer gathering.
Across the village, people were also letting off firecrackers -- which sounded like gunshots -- to welcome the fasting month.
In Ramadhan, Mlangi is a village that never sleeps. The mosque loudspeakers broadcast fiery sermons and congregation information from right after the morning prayer at around 4.20 a.m.
Also, Koran study and recital groups meet in mosques and private homes from morning until night.
"Ramadhan means surviving on less sleep," said Nasiruddin, a student of Mlangi Assalafiyah Islamic boarding school.
Located some seven kilometers from downtown Yogyakarta, the people of Mlangi have embraced Islam and made it their way of life. Most members of the community are farmers or run their own businesses. The men usually wear sarongs and caps and the women headscarves.
Covering an area of some 24 hectares and surrounded by green rice fields, Mlangi has nine Islamic boarding schools, each of which has hundreds of students from all sorts of backgrounds.
The schools have built reputations for outstanding student achievement in different areas. The students of Al-Falakiyyah, for example, are said to be able to recite the Koran from heart.
The history of the boarding school is inseparable from the life story of cleric Nur Iman, whose real name was Kanjeng Bandara Pangeran Hangabehi (KBPH) Sandiyo.
Nur Iman was the son of Susuhunan Amangkurat IV of the Surakarta Kingdom and a stepbrother of Prince Mangkubumi, who was later crowned Sultan Hamengkubuwono I (HB I).
A royal family member who was born and grew up in Gedangan Islamic boarding school in Pasuruhan, East Java, Nur Iman eventually chose to study more about Islam and become a preacher.
"In 1756, Sultan HB gave a perdikan (or tax-free region) to KBPH Sandiyo," said the 71-year-old Sri Pujo, who is a "seventh generation" descendant of Nur Iman.
A few years later Nur Iman established an Islamic boarding school in the tax-free area, becoming a teacher there. Because of the school's reputation for excellence, the village became known as Mulangi (which literally means teaching).
In 1770, Sultan HB II instructed that four mosques be built in the four directions of north, west, south and east. The Jami' Mlangi Mosque is the mosque that was built in the west.
The building has undergone major renovation work but its gate, pulpit and minaret are all original.
Bambang Setia Budi -- a Phd student at Toyohashi University of Technology, Japan -- wrote in his paper A Study on the History and Development of the Javanese Mosque that the mosque did not function just as a place for preaching and praying but also as a political and religious pillar to support the authorities.
"During the Diponegoro War (1825-1830), for example, many of the Mlangi ulema, who had been Nur Iman's pupils, joined the fight against the Dutch," Sri Pujo said.
When the war ended with the capture of Prince Diponegoro, many of the ulema never returned to Yogyakarta. They dispersed to regions including Kebumen, Gombong and Purworedjo in Central Java, and thus helped spread Islam, Sri Pudjo said.
At the same time, the offspring of Nur Iman who stayed in Mlangi also established their own boarding schools. The oldest, An-Nawawi, was named after Nur Iman's son.
The boarding school, however, is no longer there because it was neglected after Nawawi left for Malaysia.
Aside from the students who come to study in the village's nine boarding schools, many Muslims travel to Mlangi, particularly on Thursday evenings, to visit the grave of Nur Iman.
"Visitor numbers peak on the evenings leading up to Ramadhan," said Sri Pudjo, who inherited Nur Iman's kris.
Sri Pudjo said many people also stayed in Mlangi during the fasting month, arriving on the fifth day of Ramadhan and leaving on the 25th.
He said villagers, visitors and students would come together at Jami' Mlangi mosque to perform prayers and recite the Koran as they waited to eat the pre-dawn meal known as sahur, before resuming their fast.
----------
Source: The Jakarta Post - The Journal of Indonesia Today Oct 9, 2007
Monday, February 9, 2009
Please, Let Me Drive….

Rombongan turis manca negara yang datang ke Yogyakarta, biasanya memilih paket jalan-jalan keliling kota dengan naik becak. Umumnya satu becak untuk satu orang turis. Sambil duduk santai menikmati suasana kota Yogyakarta, mereka memotret atau merekam gambar. Tetapi, seperti terlihat dalam foto di atas, turis pria yang berbadan besar itu justru memilih mengayuh becak. Sementara si abang becak yang sudah tua dan kurus, duduk di depan. Mungkin sang turis itu tidak tega jika si abang becak itu harus mengayuh becak dengan membawa beban dirinya yang berat. “Please, let me drive,” begitulah kira-kira yang diucapkan turis itu. (Foto dan teks: Bambang MBK)
Wednesday, February 4, 2009
Kala Para Copet ‘Curhat’ di Kantor LBH Yogyakarta
Saat berolah raga pagi di Alun-alun Selatan Kota Yogyakarta, Budi Hartono SH dari LBH Yogyakarta memberikan informasi menarik. Lawyer senior ini mengatakan, siang nanti ada copet-copet yang datang ke LBH untuk mencari perlindungan hukum karena sering diperas oknum polisi. Wah, ini berita menarik!
Rabu pagi (4/2) saya memaksakan diri meluncur ke kantor LBH Yogyakarta. Benar saja, ada sekira 13 pria, muda dan setengah umur yang berdatangan ke kantor para pembela hukum itu. Inilah para copet itu, pikir saya dalam hati. Ada yang bertampang gahar dengan tatto di lengan, tetapi ada pula yang bernampilan biasa. Tetapi ternyata tidak semuanya masih menjalankan pekerjaan itu, ada yang sudah pensiun dan insaf.
Cukup lama menunggu, akhirnya para copet itu masuk ke ruang pertemuan LBH Yogyakarta. Di ruangan itu, Ahmad Deva Permana meminta kepada para pencopet itu untuk mengutarakan maksud kedatangan mereka ke LBH Yogyakarta agar didengar para jurnalis yang hadir dalam pertemuan itu.
Sungguh sangat mengejutkan ketika para copet itu secara bergantian menceritakan pengalamannya saat berurusan dengan oknum polisi yang mereka sebut dari kesatuan Buser Reskrim Poltabes Yogyakarta itu. Polisi sebagai penegak hukum tidak menangkap para pencopet itu tetapi justru sering memeras dan menganiaya para pelanggar hukum itu. Bahkan ada pula oknum yang mendorong para copet yang sudah insaf untuk melakukan pekerjaannya lagi.
Kasus paling akhir terjadi 21 Januari 2009 lalu. Seorang copet yang karena alasan keamanan tidak mau disebutkan namanya bercerita oknum Buser Reskrim Poltabes Yogyakarta berinisial A membuntuti dirinya yang sedang naik bus kota. Oknum polisi yang tidak berseragam dinas itu kemudian menghentikannya di wilayah Gamping. Kemudian A menggeledah, tetapi tidak ditemukan barang bukti. Namun ternyata urusannya belum selesai, A kemudian memukuli sang copet di bagian mata sembari minta uang Rp 3 juta. Karena tidak punya, permintaan diturunkan menjadi Rp 1,5 juta. Sang copet kemudian menyanggupi dan akan memberikan pada Sabtu malam minggu,”Tetapi saya tidak memberikannya,” ujarnya.
Kasus inilah yang membuat sekelompok copet di Kota Yogyakarta ini habis kesabarannya dan melaporkan kasus penganiayaan itu kepada LBH Yogyakarta. Mereka sudah jengah dengan kelakuan A yang suka memeras dan main tangan itu. “Kami minta agar kelakuan oknum polisi itu diproses secara hukum,” ujar salah seorang koordinator para copet itu.
Bagi para copet itu, diperas oknum polisi Buser Reskrim terutama yang berinisial A sudah lama mereka alami. Minta uang untuk sekedar beli voucher HP sudah biasa. “Besarnya bisa sampai Rp 200 ribu, tetapi jika diberikan dalam bentuk voucher dia tidak terima, maunya mentahannya saja,” ujar seorang copet lainnya. Tidak jarang pula ia juga minta HP seri terbaru yang harganya jutaan rupiah.
Di kalangan para copet, oknum A terkenal kejam dan ‘mata duitan’. Jika minta uang sedapat mungkin harus dipenuhi. Jika tidak terpenuhi, siksaan pasti akan dialami para copet. Masih menurut para copet itu ketika A yang masih kuliah di sebuah universitas itu akan PKL ke Pulau Bali, ia tega minta masing-masing Rp 200 ribu dari 20 copet. Namun tidak semua oknum polisi sekejam A. Ada yang mau menerima walaupun diberi sebungkus rokok.
Cerita tentang pengalaman di masa lalu terus mengalir. Pernah suatu ketika, beberapa copet tertangkap dan mereka kedapatan membawa barang bukti. Seharusnya para penegak hukum itu memprosesnya secara hukum. Tetapi kenyataannya, para copet itu tidak dibawa ke kantor polisi, namun dibawa ke kawasan lembah UGM. Di sana para oknum penegak hukum justru meminta sejumlah uang. Para copet itu mengatakan bila mereka tertangkap basah, sama sekali tidak pernah diproses secara hukum. Itulah sebabnya, mengapa tidak ada copet yang divonis hakim atas kesalahan yang diperbuatnya. “Ya saya jawab baiknya bagaimana karena polisinya bertanya, apike piye ki?” ujar koordinator copet.
Seorang bapak setengah umur yang menjadi copet sebagai pekerjaan samping turut bertukar cerita. Pernah saat dirinya berjalan dengan anaknya yang sudah besar tiba-tiba bertemu dengan A. Sungguh tak disangka karena A kemudian meminta handphone yang dipegang anaknya itu.
Memang menurut para copet itu, oknum polisi ini tidak hanya mendatangi para copet yang masih aktif. Yang sudah ‘pensiun’ pun tetap didatangi dan malah disuruh beroperasi lagi. “Kami ini sudah ingin insaf, malah disuruh jalan (mencopet) lagi,” ujar seorang pencopet yang sudah insaf.
Usai ‘curhat’ para copet itu dengan didampingi beberapa pengacara dari LBH Yogyakarta melaporkan kasus penganiayaan itu kepada Propam Polda DIY. “Bagaimana pun juga polisi tidak boleh melakukan pemukulan atau pemerasan,” ujar Deva yang menjadi salah satu kiasa hukum dari para copet itu. Deva juga mengatakan pihaknya akan bekerja sama dengan Propam untuk melindungi para copet ini setelah mereka melaporkan kejadian ini.
Saat dikonfirmasi mengenai ulah oknum polisi anak buahnya itu, Kapoltabes Yogyakarta, Kombes Pol Agus Sukamso mengatakan jika para copet itu datang ke LBH Yogyakarta, seharusnya LBH Yogyakarta menyerahkannya kepada pihak kepolisian agar dapat diproses. Namun saat ditanyakan lagi tentang kelakuan oknum polisi yang ada dijajarannya terhadap para copet itu, Agus enggan berkomentar banyak. “Saya belum dengar jadi tidak ada komentar,” ujar Agus yang dihubungi via handphonenya. (Bambang MBK)
Sunday, January 25, 2009
Wanita Belanda itu Menjadi 'Wonder Woman'

Banyak mayarakat dari negara maju yang sangat berpikir rasional tidak percaya tentang kekuatan adi kodrati atau tenaga dalam yang memungkinkan seseorang melakukan suatu tindakan yang sulit diterima akal sehat. Tetapi Rabu malam (21/1) di musholla Taman Wisata, kota Yogyakarta, seorang mahasiswa komunikasi dari Universitas Utrecht, Sandra Van den Newel membuktikan sendiri bahwa kekuatan adi kodrati itu nyata adanya. Bak makan kacang goreng, ia mengunyah beberapa keping kaca semprong! Persis seperti yang dilakukan para penari kuda lumping yang sudah intrance.
Suara gemertuk keluar dari mulutnya saat deretan giginya yang putih menghancurkan kaca-kaca itu. Percaya atau tidak, sedikit pun mulut dan lidahnya tidak terluka! “Oh my God, I do it,” ujarnya sambil tertawa lebar. Lantas mahasiswi yang berbadan tinggi ini pun kembali mengambil sekerat kaca dan kembali mengunyahnya.
Saya yang berada tepat di sisinya juga heran. Wah betapa beraninya perempuan satu ini. “Now you become Wonder Woman,” ujar saya samabil terkekeh. Wonder Woman adalah seorang tokoh super hero rekaan yang berasal dari Amerika Serikat. “Yes, I am Wonder Woman,” sahutnya dengan tetap menebar senyum, “Now I will fly,” tambahnya lagi.
Persis, salah seorang teman Sandra yang ikut menyaksikan 'peristiwa aneh' itu juga sedikit terperangah. Dengan kameranya, ia sibuk merekam aktivitas Sandra makan kaca. Sambil terus merekam, Sandra mengambil beberapa keping kaca dan memecahkannya. Ia ingin membuktikan jika kepingan kaca yang dimakan Sandra benar-benar dari kaca dan bukan dari plastik. Entah serius atau bercanda, Persis sempat menanyakan apakah Sandra akan baik-baik saja jika besok pagi ia harus buang hajat besar.
'Kenyang' makan kaca, Sandra pun kembali melakukan wawancara dengan seorang paranormal yang duduk tepat di depannya. Ia seorang pria berusia 44 tahun, namanya Krido Siswoko. Pria ini adalah seorang guru yang mempunyai sebuah organisasi bela diri yang mengandalkan tenaga dalam, namanya Cahaya Tunggal Indonesia. Orangnya biasa saja, siapa pun tak akan mengira jika pria yang berkalung seperti tasbih itu mempunyai kekuatan yang bisa membuat orang berdecak kebingungan.
Ya, Sandra mendapat tuga untuk menulis beberapa artikel selama berada sekitar dua minggu di Indonesia. Salah satunya adalah artikel tentang tenaga dalam. Namun niat ini diurungkannya karena ia mengira akan kesulitan menemukan nara sumber. Tetapi 'Dewi Fortuna' masih berpihak kepada dirinya, ia ikut dengan Persis yang malam itu bersama saya berjanji akan mewancarai Pak Krido tentang ilmu pengasihan atau Pelet. Wawancara ini untuk melengkapi artikelnya yang bercerita tentang fenomena pacaran di Indonesia.
Saat dalam wawancara itulah, ia mendengar kami berbincang tentang tenaga dalam. Secepat kilat ia pun bereaksi dan bertanya apakah Pak Krido yang oleh para muridnya dipanggil dengan sebutan 'simbah' itu mempunyai kekuatan tenaga dalam. Sebagai penerjemah saya mengatakan pria yang duduk dihadapannya itu memang seseorang yang mempunyai tenaga dalam. Dengan tenaga dalam, ia dapat melakukan banyak hal seperti memberikan kekuatan untuk memikat lawan jenis (pelet), menyembuhkan orang sakit dan masih banyak lainnya.
“Bisakah ia membuktikan jika mempunyai tenaga dalam,” tanya Sandra. Mendengar pertanyaan ini, Pak Krido menjawab untuk membuktikannya sebaiknya bukan dirinya tetapi Sandra atau Persis sendiri yang harus menjalaninya. Setelah Sandra setuju ia akan mencoba sendiri, Pak Krido pun mempersiapkan segala sesuatunya. Ia meminta salah seorang muridnya untuk mengambil beberapa bilah pecahan kaca semprong.
Ketika Sandra siap membuktikan kekuatan tenaga dalam, Pak Krido pun memulai 'ritual' kecil untuk mentransfer kekuatan tenaga dalam ke tubuh Sandra. Ia membuka salah salah satu air mineral dalam gelas yang ada di depannya. Kemudian ia memejamkan mata beberapa detik, tangan kanannya membuat gerakan berputar di atas kepalanya dan selanjutnya diarahkan ke air mineral itu. Mungkin ia sedang memancarkan kekuatan supra natural ke dalam air mineral itu.
Setelah selesai, ia meminta Sandra meminum habis air mineral itu. Dan ajaib, setelah minum air bermantera itu, Sandra pun menjadi Wonder Woman! Ia dapat makan pecahan kaca semprong itu tanpa terluka sedikit pun. “Ia akan mempunyai kekuatan ini selama satu jam,” ujar Pak Krido.
Sebagai orang Jawa yang hobi nonton kuda lumping, atraksi orang makan kaca semprong bukan sesuatu yang baru. Tetapi saya merasa geli dan sedikit takjub karena Sandra, seorang wanita yang datang dari negara maju dan mengandalkan rasionalitas mau melakukan itu. Sandra pun mengatakan jika saat ini percaya bahwa kekuatan tenaga dalam itu memang ada. “Now, I belive,” ujar perempuan yang tinggal di kota Den Hag itu.
Usai wawancara, ketika malam mulai menyelimuti kota Yogyakarta, Pura Wisata masih 'hidup' dengan atraksi dangdutnya. Kami lapar, dengan naik becak kami meluncur ke Cafe Made di Prawirotaman. Sembari makan, kami berbincang-bincang tentang berbagai hal, salah satunya adalah keberanian Sandra makan kaca. “Oh my God, I really do itu,” ujarnya lagi sambil tertawa.
Persis yang duduk di depannya mengatakan Sandra adalah orang yang berani dan suka melakukan hal-hal yang aneh. Ia bertuka cerita, di Belanda sendiri Sandra bekerja untuk sebuah stasiun televisi dimana ia bertugas untuk merekam perilaku manusia yang aneh-aneh. “Asyik sekali karena saya menggunakan candid camera,” ujar sandra menimpali.
Ya, Sandra yang berpostur tinggi itu memang 'aneh'. Malam itu ia menjadi 'Wonder Woman'. Dalam hati saya berkata, dengan sikap yang demikian itu ada potensi ia akan menjadi seorang jurnalis handal, seorang jurnalis yang selalu berani mencoba hal-hal baru dan menyajikannya dalam berita-berita yang menarik dan tidak kacangan. We wait your story in the future.... (Bambang MBK)
Tuesday, May 27, 2008
Perempuan dan Antrian Minyak TanahWednesday, February 20, 2008
Oleh Dian Trisnanti
Teka- teki tersebutlah yang sedang menjadi perbincangan di tengah masyarakat saat ini. Belum selesai masyarakat Jogjakarta digemparkan oleh tewasnya saksi ahli arca, Herlambang, masyarakat kembali dikejutkan oleh aksi ribuan warga Bantul ke LOS DIY tanggal 11 februari lalu. Dalam aksi tersebut, warga Bantul menuntut LOS DIY untuk mencabut hasil penelitiannya yang menyebutkan bahwa 40% dana JRF salah sasaran. Hasil penelitian tersebut menurut ASEK I Bantul, Sukardiono menyebabkan warga resah dan takut jikalau dana JRF tersebut tertunda atau bahkan ditarik karena dinilai salah sasaran.
Tak ayal, Kepala LOS DIYpun melaporkan ketujuh aparat PEMDA Bantul yang turut serta dalam aksi tersebut dan turut meminta Budi Wahyuni selaku Ketua LOS DIY untuk mencabut penelitian tersebut. Padahal, tegas Budi Wahyuni sebuah penelitian tidak bisa dicabut dan hanya bisa disanggah dengan penelitian lain. Tidak hanya melaporkan ke POLDA DIY, LOS juga mengadukan aparat PEMDA Bantul ke tetangganya LOD DIY. Beberapa hari setelah pengaduan Budi Wahyuni, LOD DIY segera memanggil pejabat Bantul yagn diduga terlibat dalam aksi yang berakhir anarkis dan dianggap mencoreng demokrasi di Jogjakarta yang selama ini berjalan cukup baik. Tertanggal 19 februari 2008, ASEK I Sukardiono, serta Sat POL PP Kandiawan ditemani salah seorang pejabat lain bernama Bayu Broto, memenuhi undangan lod diy untuk dimintai keterangan. Dalam kesempatan tersebut baik Kandiawan maupun Sukardiono menyatakan pihaknya sama sekali tidak bermaksud menekan Budi Wahyuni agar mencabut hasil penelitiannya. Memang mereka memberi waktu lima menit bagi Budi Wahyuni agar segera mencabut hasil penelitian, namun hal itu dilakukan semata-mata untuk menenangkan ribuan massa di luar kantor LOS DIY yang mulai marah. Bahkan, Sukardiono memaklumi tindakan anarkis yang dilakukan warga Bantul karena adanya faktor yang memicu hal tersebut, termasuk tindakan Budi Wahyuni yang tidak segera memberi jawaban. Kepada LOD DIY mereka juga menyampaikan tidak tahu menahu mengenai rencana atau koordinasi aksi tersebut. Mereka mengaku hanya ditugaskan oleh Bupati Bantul Idham Samawi untuk memantau aksi tersebut.
Keesokan harinya tanggal 20 Februari 2008 (hari ini), gantian wakil ketua APDESI Bantul Bibit Rustamto dan ketua Pandu (Paguyuban Dukuh) Bantul yang dipanggil oleh LOD DIY. Sama halnya dengan pejabat Bantul yang sudah dimintai keterangan sebelumnya, Bibit mengatakan tidak tahu menahu mengenai siapa yang telah memobilisasi warga Bantul untuk melakukan aksi demonstrasi ke LOS DIY tanggal 11 februari 2008 lalu. Ia hanya menuturkan bahwa ia serta beberapa lurah lain di Bantul menghadiri pertemuan yagn dilakukan sekitar tanggal 3 Februari 2008 yang hasil keputusannya memang akan melakukan aksi ke LOS DIY. Akan tetapi, ia mengaku tidak tahu pasti proses mobilisasi massa serta siapa yang menyediakan fasilitas berupa 150 truk untuk mengangkut warga.Sementara terkait dengan penanda berupa pita merah putih di setiap massa aksi, Bibit juga mengaku tidak tahu siapa yang memberi tanda itu. Akan tetapi, Bibit mengakui serta beberapa Lurah lainnya sudah mengetahui sebelum aksi berlangsung, bahwa penundaan dana JRF tidak ada kaitannya dengna hasil penelitian LOS DIY. Masih berdasarkan keterangan Bibit sebelum tanggal 9 Februari 2008, ia selaku Lurah Bangunjiwo, Lurah desa Wonolilo, Silo Harjo dan Terong serta BKM diundang oleh JRF. Dalam pertemuan tersebut, JRF menerangkan bahwa dana JRF yang tertunda bukan disebabkan oleh hasil penelitian LOS DIY yang menyatakan 40% dana JRF tidak tepat sasaran.Namun, lanjut Bibit, JRF tidak memberi penjelasan terkait dengan pengembalian uang dana rekonstruksi jika dianggap salah sasaran, padahal hal itu telah menjadi keresahan warga. Oleh karena itu, aksi tetap berlangsung selain memang karena ia beserta Lurah yang sudah menerima sosialisasi dari JRF, belum sempat membri tahu warga. Dengan demikian, bisa jadi, warga masih salah paham bahwa hasil penelitian LOS tersebut menjadi faktor penyebab tertundanya bantuan JRF. Sementara Ketua Pandu Bantul Sulistyo menyatakan semua pihak bertanggung jawab dalam aksi yang berujung anarkis itu, tidak semata-mata tanggung jawabAPDESI. Baik LOS DIY maupun POLDA DIY turut bertanggung jawab karena minimnya penjagaan pada waktu aksi.
Di lain sisi, LOD DIY menemukan fakta yang berbeda. Berdasarkan keterangan asisten LOD DIY , Vitrin Haryanti, ia menemukan fakta satu desa di Bantul yang justru tidak tahu kalau akan diajak aksi. Mereka, para warga, hanya diminta berkumpul di balai desa dan diberi penanda berupa pita merah putih serta dinaikkan ke truk. Mereka bahkan tidak tahu kemana truk yagn mereka tumpangi menuju. Baru diketahui kemudian, kalau ternyata mereka diajak aksi ke LOS DIY yang kemudian malah berujung anarkis. Jika semua pihak aparat Bantul mengaku tidak tahu menahu mengenai siapa yang mengkoordinir aksi lalu siapa di belakang aksi tersebut, yang mampu memobilisasi sekian banyak massa. Ketika ditanya mengenai siapa struktur aksi seperti korlap, kordum, Bibit hanya menjawab “Wah saya tidak tahu siapa yang memobilisasi aksi serta yang menyediakan truk, dana dari mana juga tidak tahu”
