Showing posts with label Budaya. Show all posts
Showing posts with label Budaya. Show all posts

Monday, December 27, 2010

Wayang Thinglung ala Mardi Kenci

Namanya Mardi Kenci. Ia seorang dalang wayang kulit. Tetapi, pertunjukan wayang kulit yang dibawakannya nyleneh, namanya wayang thinglung. Saat pentas, ia tidak membutuhkan iringan musik gamelan. Musiknya muncul dari mulutnya sendiri.

Saat memainkan wayangnya, Mardi sering berinteraksi dengan penonton. Joke-joke spontan yang 'beterbangan' dari mulutnya sering mendapat respon langsung dari penonton. Alhasil para penonton dibuatnya tertawa terpingkal-pingkal.
Menurut Mardi, tidak butuh uang banyak untuk menanggap dirinya. Cukup Rp 300 ribu saja, plus rokok dan tentu saja minuman. Untuk minuman, ini adalah 'sesaji' yang wajib ada. Sebab ia akan boros minum karena mulutnya tidak berhenti 'bekerja' sepanjang pertunjukan, mengucapkan dialog dan mengeluarkan bebunyian untuk iringan musik.

Inilah salah satu kekayaan khasanah budaya di Yogyakarta. Jika ada kesempatan nikmatilah, aksi Mardi Kenci, ditanggung akan terhibur. Syaratnya satu, mengerti bahasa Jawa. (Foto dan Teks: Bambang Muryanto).

Tari Topeng Cirebon Kritik Manusia Berkuasa

Salah satu kebudayaan dari Cirebon (Jawa Barat) yang terkenal adalah tari Topeng Cirebon. Apa maknanya?

Ketika menjadi pembicara dalam diskusi bertema "Budaya Lokal dan Perubahan Sosial" di Ndalem Pendopo, Yogyakarta, Kamis (23/12) budayawan dari Banyumas, Ahmad Tohari mengatakan tarian ini adalah kritik terhadap manusia yang sedang berkuasa. kekuasaan disimbolkan dengan topeng. Ketika sang penari belum menggunakan topeng, gerakannya luwes, pantes dan enak. Tetapi ketika mengenakan topeng, dia menjadi gila. (foto dan teks: Bambang Muryanto)



Ahmad Tohari: Jaman Teknologi, Tinggalkan Klenik




Ahmad Tohari, seniman yang menghasilkan trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk itu masih mengeluarkan pemikiran kritis dibidang kebudayaan. Ia berpendapat jaman yang bergerak dari era pertanian menuju era teknologi menuntut perubahan kebudayaan dari masyarakatnya. Dengan datangnya jaman teknologi yang rasional, masyarakat seharusnya meninggalkan tradisi klenik yang lekat dalam budaya pertanian.

“Tradisi budaya itu ada umurnya, suka atau tidak suka,” ujarnya saat menjadi pembicara dalam diskusi bertema “Rembug Budaya, Budaya lokal dan Perubahan Sosial di angkringan JAC (warung Pendopo Ndalem), Ngasem, Yogyakarta, Kamis (23/12) yang diselenggarakan CRI, Program Studi Komunikasi UII dan Ristek. Diskusi dengan moderator Toto Rahardjo ini juga menghadirkan budayawan dari Yogyakarta, Indra Tranggono.

Dalam diskusi santai yang diselingi dengan tari Topeng Cirebon itu, Kang Tohari ‘gemas’ dengan pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang masih suka tradisi klenik seperti penghormatan terhadap Sungai Serayu dengan cara melarung kepala kerbau. Ia menegaskan cara seperti ini tidak sesuai dengan era teknologi yang mengandalkan rasio untuk memahami suatu peristiwa.

“Nantinya, cara menghormati Sungai Serayu itu ya dengan cara menjaga hutannya, menjaga aliran sungainya, menjaga biotanya,” tandas seniman yang piawai dalam mendiskripsikan situasi pedesaan dalam novel-novelnya itu.

Tohari juga mengingatkan perubahan sosial termasuk kebudayaan masyarakat adalah sebuah keniscayaan. Untuk itu budaya lokal harus dipersiapkan guna menyongsong masa depan. Dalam bahasa Indra Tranggono, budaya lokal yang berfungsi sebagai medium orientasi lokal, solidaritas lokal dan berhubungan dengan kekuatan supranatural, harus menjadi inspirasi bagi perubahan sosial itu sendiri.

Sebagai contoh, Tohari menjelaskan tari Topeng Cirebon yang sarat dengan kritik terhadap manusia yang berkuasa itu. “Bagaimana caranya tarian ini dapat mengglobal,” ujar Tohari.

Tetapi sayangnya, Indra menyatakan pemerintah hampir tidak mempunyai kepedulian terhadap budaya lokal yang terpinggirkan oleh kekuatan budaya modal atau kapitalisme. Budayawan yang sering menulis cerpenis ini memberikan ilustrasi tentang satu komunitas kethoprak tobong yang menggelar pentas pamit mati di alun-alun utara beberapa waktu lalu.

“Ini sangat ironis karena ternyata pemerintah tidak memberikan bela sungkawa atau melindunginya,” tandas Indra. Menurutnya kejadian ini memberikan hikmah bahwa dalam budaya modal atau kapital itu tidak ada konsep berbagi, hanya yang kuat yang akan menang.

Sedikitnya budaya lokal yang muncul di televisi juga menjadi contoh lain betapa tidak seriusnya pemerintah. “Karena itu saya warning kepada teman-teman bahwa pemerintah itu tidak bisa diharapkan,” ujar Indra lagi.

Diskusi yang menarik itu, tidak bisa menuntaskan semua persoalan budaya lokal dan perubahan sosial yang begitu komplek. “Butuh satu semester,” tandas Toto Rahardjo, budayawan yang juga tokoh NGO itu.

Saat diskusi berakhir di malam itu, para peserta masih memenuhi Pendopo Ndalem. Selain menyaksikan film dokumenter, mereka juga dihibur dengan wayang tinglung dari Mardi Kenci yang kocak. Seluruh hadirin tertawa terbahak-bahak. (Foto dan teks: Bambang Muryanto)

Monday, October 5, 2009

Mbah Karyo Masih Tetap Membuat Batik




Mungkin Mbah Karyo tidak tahu jika UNESCO sudah menetapkan batik dari Indonesia sebagai warisan budaya manusia bukan benda. Tetapi perempuan yang sudah sangat lanjut usia ini masih menggunakan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya untuk ikut serta menciptakan sebuah maha karya seni, batik!

Setiap hari Mbah Karyo yang mengaku sudah berusia 100 tahu itu mengerok malam dari selembar kain batik. Selember kain batik cap (printing) ia sampirkan ke atas sebuah bambu yang menempel di antara dua batang pohon. Setelah membasahi kain batik itu, dengan menggunakan alat dari besi, ia mengerok malam pada bagian tertentu dari motif batik itu. Tangannya yang renta itu masih cukup kuat dan cekatan.

“Bagian yang saya kerok ini akan diberi warna merah,” ujar perempuan yang tinggal di Dusun Keloran, Kasihan, Kabupaten Bantul ini. Setiap hari ia menyelesaikan empat lembar kain. Tetapi kain-kain batik ini bukan miliknya. Mbah Karyo adalah buruh batik yang untuk setiap lembar kain batik, ia dibayar sebesar Rp 2000.

Mbah Karyo sudah menjalani pekerjaannya ini untuk waktu yang lama. Dahulu ketika masih muda ia adalah tukang menumbuk padi,”Waktu itu belum ada penggilingan padi,” ujar perempuan yang tidak mempunyai anak ini.

Walaupun hanya sekedar untuk mendapatkan sedikit uang agar dapat menyambung hidup, Mbah Karyo adalah salah satu orang yang mempunyai jasa bagi tetap lestarinya batik di Indonesia. Di usianya yang renta, ia masih tetap menggunakan tenaganya membuat karya seni batik yang membuat nama Indonesia harum di dunia internasional. (foto dan teks: bambang m)

Sunday, March 15, 2009

Friday, February 6, 2009

Tradisi Cing-cing Goling di Gedangrejo


Masyarakat Desa Gedangrejo, Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul mempunyai satu upacara tradisi bernama Cing-cing Goling. setiap tahun mereka mengadakan upacara ini sebagai ungkapan rasa syukur terhadap keberhasilan panen sekaligus mengingat kembali akan jasa pendiri desa yang bernama Ki Tropoyo dan Nyi Tropoyo.


Menarik untuk menyaksikan tradisi ini karena masyarakat membuat ratusan ingkung yang dikemas dalam sebuah 'tas' yang terbuat dari janur atau daun kelapa. Setelah upacara selesai, masyarakat yang datang makan bersama.


Dalam upacara ini, diperlihatkan pula sekelumit sejarah perjalanan Ki dan Nyi Tropoyo. Masyarakat yang datang juga memberikan sesaji (antara lain menyan dan tembakau) yang kemudian dibakar oleh seorang 'dukun' atau mungkin sesepuh desa. Konon mereka yang memberikan sesaji ini adalah wujud dari ungkapan syukur karena cita-cita atau keinginannya sudah terkabul.


Dalam upacara Cing-Cing Goling, sesepuh desa atau 'dukun' mungkin adalah orang yang paling berbahagia karena dalam kesempatan itu ia mendapat banyak uang dari masyarakat. Ini adalah ungkapan terima kasih karena melalui perantaraan dia, masyarakat berhasil 'menyambung komunikasi' dengan sang Maha Kuasa, memohon agar terkabul cita-citanya. Foto dan teks: Bambang MBK)